Liputan6.com, Jayapura: Setelah belasan tahun melintasi batas antara Indonesia dan Papua Nugini, ratusan pelintas kembali ke Tanah Air, Rabu (6/9). Mereka pulang setelah melalui proses repatrasi (pemulangan) yang dilakukan pemerintah Indonesia, Papua Nugini serta badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi (UNHCR). Sebelumnya, ratusan pelintas batas asal Irianjaya itu ditampung di kamp pengungsian Papua Nugini selama 17 tahun.
Menurut Petrus Biwa, pria asal desa Talar, pemulangan ini terjadi karena iklim politik Indonesia sudah membaik. Lelaki asal desa Talar, Kecamatan Batas Pantai Timur Sarmi, Kabupaten Jayapura ini menuturkan, tak cuma Jayapura yang ia tinggalkan selama ini. Istri dan anaknya pun ia biarkan, persisnya sebelum peristiwa pengibaran bendera Bintang Kejora di halaman Gedung DPRD Jayapura di tahun 1984. Setelah peristiwa itu, Petrus yang mengaku anak mantan polisi Belanda itu, bersama pelintas batas lain tidak berhasil kembali pulang lantaran situasi memburuk.
Selama kurun waktu 17 tahun mendekam di kamp pengungsian, di kawasan Iowara Western, Papua Nugini, Petrus bekerja sebagai petani dengan memanfaatkan tanah seluas satu hektar milik UNHCR. Kini, Petrus dan kawan-kawan berharap bisa berkumpul bersama keluarga dengan aman dan damai. Ayah dua anak ini mengaku akan bekerja sebagai petani, setelah berpisah dengan tanah kelahirannya.(AWD/Ruba'i Kadir)
Menurut Petrus Biwa, pria asal desa Talar, pemulangan ini terjadi karena iklim politik Indonesia sudah membaik. Lelaki asal desa Talar, Kecamatan Batas Pantai Timur Sarmi, Kabupaten Jayapura ini menuturkan, tak cuma Jayapura yang ia tinggalkan selama ini. Istri dan anaknya pun ia biarkan, persisnya sebelum peristiwa pengibaran bendera Bintang Kejora di halaman Gedung DPRD Jayapura di tahun 1984. Setelah peristiwa itu, Petrus yang mengaku anak mantan polisi Belanda itu, bersama pelintas batas lain tidak berhasil kembali pulang lantaran situasi memburuk.
Selama kurun waktu 17 tahun mendekam di kamp pengungsian, di kawasan Iowara Western, Papua Nugini, Petrus bekerja sebagai petani dengan memanfaatkan tanah seluas satu hektar milik UNHCR. Kini, Petrus dan kawan-kawan berharap bisa berkumpul bersama keluarga dengan aman dan damai. Ayah dua anak ini mengaku akan bekerja sebagai petani, setelah berpisah dengan tanah kelahirannya.(AWD/Ruba'i Kadir)