Menpar Arief Yahya Resmikan Harvest Resort & Village Banyuwangi

Menpar Arief Yahya Resmikan Harvest Resort & Village Banyuwangi

oleh Cahyu diperbarui 10 Sep 2017, 13:00 WIB
Menpar Arief Yahya Resmikan Harvest Resort & Village Banyuwangi

Liputan6.com, Jakarta Amenitas di Banyuwangi yang berbintang empat bertambah satu. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, dengan didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah, Azwar Anas, meresmikan Harvest Resort & Village di Banyuwangi, Sabtu (9/9/2017).

Kehadiran hotel bintang empat baru tersebut semakin memantapkan kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini dalam bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition).

"Selamat dan sukses buat Harvest Resort and Village," ujar Menpar, Arief Yahya.

Lokasi hotelnya terbilang sangat strategis. Letaknya ada di Kecamatan Licin yang notabene merupakan salah satu base camp untuk menuju kawasan wisata Ijen. Jadi selain MICE, destinasi Ijen bisa sekalian dinikmati tamu yang datang ke Banyuwangi.

"Banyuwangi letaknya strategis karena dekat dengan Bali. Banyuwangi itu indah dan jika ingin menjadi destinasi wisata unggulan, Banyuwangi harus punya bandara internasional," ucap Arief.

Hal ini tidak terlepas dari upaya Bupati Banyuwangi yang terus mendorong kabupatennya sebagai destinasi wisata unggulan dengan promosi besar-besaran. Berpromosi lewat festival-festival, pembangunan destinasi baru, dan pembangunan infrastruktur​ . Semuanya dilakukan untuk mendukung mobilitas wisatawan dari dan ke Banyuwangi. Saat ini, sudah ada dua penerbangan baru langsung dari Jakarta, sedangkan dari Bali masih memanfaatkan jalur darat.

Tiga poin penting langsung disampaikan Arief dalam sambutannya. Pertama, dalam pengembangan destinasi, dia memperkenalkan 3A, Atraksi, Akses dan Amenitas. Hadirnya Harvest Resort & Village itu adalah bentuk pengembangan amenitas, yang menjadi poin penting bagi pengembangan destinasi.

Kedua, poin penting yang disampaikan terkait pembangunan ballroom/conference venue yang berkapasitas 1000 orang di Harvest Resort & Village itu.

“Itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk gelaran event MICE sebanyak-banyaknya. Karena MICE ini makin menjanjikan,” ucap Arief.

Ia menjelaskan, keuntungan dari berkembangnya MICEtourism adalah wisatawan mancanegara (wisman) MICE melakukan spending dua kali lebih banyak daripada wisman biasa. ARPU atau Average Revenue Per User-nya jauh lebih tinggi, dan lokasi atau daerah penyelenggaraan MICE akan memperoleh keuntungan berupa perbaikan berbagai sektor yang ada.

Arief mencontohkan, semakin sering diadakan conferences dan diskusi tentang perikanan dilakukan di Banyuwangi, maka sektor perikanan akan semakin maju.

Ketiga, poin yang penting menurut dia adalah untuk maju memenangkan persaingan, khususnya ketika bidding untuk event MICE nasional dan internasional, Banyuwangi harus Incorporated. Bersatu membawa nama baik Banyuwangi dan Indonesia di pentas dunia.

“Ketika bersatu, maka kita akan kuat dan memenangkan persaingan. Banyuwangi punya prospek bagus di pariwisata, masyarakatnya juga semakin ramah dan punya semangat hospitality yang bagus,” kata Arief.

Ia menyebutkan bahwa Banyuwangi akan banyak investasi di bidang pariwisata.

“Banyuwangi sukses sebagai Kota Festival, dalam setahun ada 72 events dan konsisten dari tahun ke tahun. Itu menjadi kekuatan atraksi Banyuwangi,” ujar Arief.

Top 3 Event Banyuwangi, imbuh dia, adalah Tour de Ijen, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), dan Gandrung Sewu, yaitu seribu penari gandrung yang menggemparkan dunia. Wisata Baharinya punya Marina Boom Banyuwangi.

“Destinasi Wisata Baru antara lain Pantai Cacalan, air terjun watugedek sempu, hutan pinus songgon, pantai syariah pusan, ikon pariwisata (spot selfie),” ucap Arief.

Di kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan bahwa dirinya hanya memberikan perizinan untuk pembangunan hotel bintang tiga dan bintang empat, serta homestay. Izin tidak akan diberikan untuk pembangunan hotel kelas Melati.

"Kita sengaja hanya beri izin hotel berbintang dan homestay sebagai bagian dari kontrol tata kota. Saya tidak akan izinkan dibangun hotel Melati. Karena terbukti hotel Melati hanya menjual jam-jam-an untuk sesuatu yang tidak benar," kata Anas, yang disambut gelak tawa hadirin.

Pengendalian pendirian hotel tersebut sengaja dilakukan guna menjaga iklim investasi di Banyuwangi. Saat tak ada kontrol, dikhawatirkan akan memunculkan persaingan yang tidak sehat.

Seperti diketahui, sejumlah hotel berbintang berjejaring kini telah dibangun di Banyuwangi, di antaranya jaringan Hotel Aston dan Hotel Agastya. Pembangunan Hotel Aston yang berlokasi di Jalan Brawijaya telah dimulai sejak Oktober 2016 lalu. Hotel delapan lantai tersebut diproyeksi mulai beroperasi Oktober mendatang. Sementara itu, pembangunan Hotel Agastya yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, juga terus berlangsung.

Anas mengatakan, pengusaha hotel menanamkan investasi di Bumi Blambangan murni pertimbangan bisnis. Artinya, pihak investor telah menghitung return of investment (ROI) alias rasio provitabilitas. Untuk itu, pihak Pemerintah Daerah menargetkan Banyuwangi menjadi Kota MICE.

“Selama ini orang lebih memilih Kota Batu, Surabaya, Bali untuk lokasi rapat. Kalau mereka memilih Banyuwangi, bisa jadi jumlah kamar hotel yang ada saat ini akan kurang. Nah, saat itu terjadi, izin pendirian hotel baru akan dibuka kembali, sehingga investor bisa mendapatkan kepastian,” ujar dia.

Sementara itu, owner Harvest Resort & Village, Aminoto, mengatakan bahwa sudah sejak lama ia yakin Banyuwangi bakal tumbuh pesat. Sebab itu, dirinya tidak ragu berinvestasi membangun hotel di negeri Sunrise of Java ini.

"Ini sebagai dukungan kita atas tumbuh pesatnya pariwisata di Banyuwangi. Kami melihat dari tahun ke tahun kunjungan wisatawan di Banyuwangi terus meningkat dan kebutuhan amenitasnya masih kurang," ucap Aminoto.

Dengan nilai investasi lebih dari Rp 50 miliar, Harvest Resort & Village ini menyasar kelas menengah ke atas. Dengan jumlah kamar sebanyak 40 kamar, tingkat okupansinya ditarget mencapai 80 persen.

"Kita baru buka dua bulan saja okupansinya sudah 20-50 persen dimana sebagian besar tamunya adalah wisatawan asing. Nantinya jumlah kamar akan terus kita tambah dan kami optimis okupansinya bisa mencapai 80 persen. Karena makin lama makin banyak orang yang datang ke Banyuwangi," kata Aminoto.

Akhir-akhir ini, atau di momen-momen tertentu, kamar hotel di Banyuwangi kerap penuh. Banyak yang tidak kebagian kamar sehingga terpaksa menginap di kota tetangga seperti Jember. Bahkan pernah terjadi rombongan Anggota DPR RI yang terpaksa putar balik ke Surabaya karena tidak kebagian kamar hotel saat melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi.

Aminoto melanjutkan, pihaknya akan terus berekspansi bila pertumbuhan wisatawan di Banyuwangi makin besar dengan membangun hotel lainnya. Menurutnya, langkah ini tidak kontra produktif dengan program pemerintah yang menggalakkan homestay karena beda segmen.

"Saya sangat mendukung program homestay yang dicanangkan Kemenpar karena memang itu sangat dibutuhkan dengan meningkatnya kunjungan. Tapi bagian kami menangani yang kelas menengah ke atas karena itu juga masih dibutuhkan. Banyak kantor-kantor perusahaan atau instansi juga membutuhkan fasilitas ballroom," ujarnya.

Pengembangan industri pariwisata di Banyuwangi begitu cepat. Data menunjukan kenaikan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) yang fenomenal dibandingkan dengan "Beyond Bali destinations" lainnya di Indonesia.

Pada 2016 tercatat lebih dari 4,6 Juta wisnus yang berkunjung ke Banyuwangi, melonjak 85 persen dari 2015 dengan 2,5 juta wisnus dan jumlah tersebut hampir tiga kali lipat jumlah penduduk Banyuwangi yang sebanyak 1,6 juta warga.

Sementara itu, kunjungan wisman tahun lalu juga tumbuh 33 persen dan mencapai 141 ribu wisman, sebelumnya sebesar 105 ribu wisman di 2015, relatif sangat besar bagi destinasi yang baru.

Pada semester I tahun 2017, penanaman modal dalam negeri Jawa Timur masuk ke dalam urutan ke-tiga setelah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sementara itu, kabar menggembirakan untuk penanaman modal asing di Banyuwangi mendapatkan posisi ke-II tertinggi setelah Kota Surabaya. Itu pun belum termasuk empat proyek yang belum selesai pada 2016.

Data hotel di Kabupaten Banyuwangi, jumlah hotel pada 2016 sebanyak 76 hotel dengan total 2.385 kamar dan 3.571 tempat tidur. Saat ini, ada tambahan hotel baru, yaitu Hotel eL Royale Hotel & Resort Banyuwangi (Bintang 4), progres pembangunan Hotel Aston (Bintang 3), dan Singgasana (Hotel Bintang 4).


(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya