Menanam Benih Durian Montong di Lereng Merapi Bareng Pertamina

Pertamina memberdayakan petani lereng Gunung Merapi di Musuk, Boyolali untuk menanam durian montong.

oleh Fajar Abrori diperbarui 19 Agu 2017, 06:03 WIB
Durian montong di lereng Gunung Merapi di Musuk, Boyolali. Foto: (Fajar/Liputan6.com)

Liputan6.com, Karanganyar - Pertamina memberdayakan petani lereng Gunung Merapi di Musuk, Boyolali untuk menanam durian montong. Pasalnya, hasil penjualan durian jenis tersebut cukup menjanjikan dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Program Sentra Pemberdayaan Tani (SPT) Desa Karanganyar, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali merupakan hasil dari kerjasama antara Desa Karanganyar, Yayasan Obor Tani dan dibiayai Pertamina melalui program corporate social responbilty (CSR).

Pohon durian tumbuh subur di Desa Karanganyar. Hanya saja, jenis buah durian lokal yang membutuhkan waktu cukup lama untuk berbuah. Dengan adanya potensi tersebut, Yayasan Obor Tani menggandeng petani di desa tersebut untuk menanam pohon durian montong yang secara kualitas lebih bagus.

Koordinator Lapangan Perkebukan Yayasan Obor Tani, Rokhimun mengatakan, awalnya Yayasan Obor Tani melakukan survei lokasi di Desa Karanganya untuk mengetahui kondisi tanah yang cocok untuk ditanami durian. Sebelumnya, Yayasan Obor Tani menemukan banyak pohon durian lokal yang tumbuh.

"Pertama survei lumayan banyak durian lokal tapi pengelolaannya belum pas dan tepat sehingga Yayasan Obor Tani melakukan program SPT di sini. Kebetulan Petaminan mendanai program ini," kata dia di SPT Desa Karanganyar, Musuk, Boyolali, 16 Agustus 2017.

Lantas, Yayasan Obor Tani, memberdayakan petani di desa tersebut untuk menanam pohon durian montong. Program awal yan dilakukan adalah membuat embung untuk menampung air hujan. Embung tersebut digunakan untuk menyirami pohon durian yang ditanam di Desa Karanganyar.

"Program itu mulai dilakukan pada tahun 2009, selanjutnya tahun 2010 dilakukan pemetaan lahan seluas 2800 petak. Total lahan yang ditanami durian mencapai 20 hektare yang terdiri dari 5 hektar milik kas desa dan sisanya milik warga," sebutnya.

Setelah itu, kata dia, Yayasan Obor Tani yang mendapat bantuan dana dari program CSR Pertamina, membagikan 3000 bibit tanam durian montong kepada masyarakan untuk ditanam pada kurun waktu 2011 hingga 2012.

"Dari jumlah bibit tanaman yang dibagikan itu yang mati terkena penyakit sekitar 140 biji, jadi yang hidup sekitar 2850 pohon," ujar dia.

Rokhimun menjelaskan, setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan selama 3,5 tahun, akhirnya pohon durian montong tersebut mulai berbuah pada akhir tahun 2013. Bahkan, hingga tahun 2015 lalu sudah berhasil dipanen sebanyak 3 kali sejak mulai ditanam.

"Warga cukup senang karena masa berbuahnya cepat dibandingkan durial lokal. Kalu durian monton ini hanya sekitar 3,5 tahun sudah berbuah, sedangkan durian lokal membutuhk waktu hingga 10 tahun untuk berbuah," kata dia.

Sementara itu, Kepal Desa Karanganyar, Purwaka mengatakan, untuk menanam durian montong, warga mendapatkan pendampingan dari Yayasan Obor Tani. Mereka dilatih mulai dari cara menanam, merawat, hingga bisa mengelola sendiri pohon durian.

"Pertamina membiayai semya, mulai dari pembuatan embung, penanaman, pengadaan bibit hingga perawatan dengan obat dan pupuk. Sedang yang mengelola dari Obor Tani," jelasnya.

Hasil dari pemberdayaan itu, dikatakan Purwaka, kini warga Karanganyar lebih sumringah karena hasil dari panen durian secara ekonomi nilainya lebih tinggi dan menguntungkan dibandingkan menanam tanaman palawija. 

"Daripada ditanami singkong, cabai, pepaya dan lainnya, durian montong lebih menjanjikan. Hanya saja tahun 2016 hasil panennya tidak bagus karena faktor cuaca," kata dia.

Salah satu warga yang ikut menaman durian montong, Suryanto mengaku jika lahannya dulu ditanami tanaman palawija. Namun kini palawija hanya menjadi tanaman tumpangsari disel-sela lahan yang ditanami pohon durian montong.

"Buah durian monton secara nilai ekonomi lebih tinggi hasilnya," akunya.

Bahkan, pada musik panen tahun 2015 lalu, ia mengaku jika buah durian montongnya sempat ditawar Rp 12 juta oleh penjual buah. Namun, Suryanto menolaknya dan lebih memilih melayani pembelian yang dilakukan langsung oleh pengunjung.

"Dulu ditawar Rp 12 juta untuk ditebas, tapi saya tolak. Saya pilih untuk dijual langsun kepad pengunjung yang datang ke sini. Hasilnya dari penjualan langsung itu mencapai Rp 16 juta. Total durian yan dipetik mencapai 170 buah dari 25 pohon," kata di bangga.

Akibatnya, kini banyak warga yang dulunya menolak menanam durian montong, kini jadi kepincut untuk ikut menanam. "Dulu waktu pembagian bibit tidak mau, tapi sekarang rebutan untuk bisa mendapatkan bibit tanaman durian montong setelah tahu hasilnya," ucapnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya