Stok Gula Menumpuk, RNI Andalkan Penjualan Ritel

Produksi gula RNI berkisar 2.500 sampai 3.000 ton gula selama musim giling hingga Oktober 2017.

oleh Dinny Mutiah diperbarui 13 Agu 2017, 14:24 WIB
Tebu yang akan dikirim ke Pabrik Gula Candi Baru. (Foto: RNI)

Liputan6.com, Tarakan - Stok gula PT Rajawali Nusantara Indonesia (persero) menumpuk hingga 30 ribu ton hingga semester I 2017. Padahal, stok tersebut biasanya sudah habis terjual pada rentang waktu itu.

Direktur Utama PT RNI B Didik Prasetyo mengatakan hal itu akibat harga rata-rata gula RNI yang anjlok mencapai Rp 10.900 per kilogram. Padahal, tahun lalu harga gula berkisar Rp 11.500 per kilogram.

Stok tersebut diperkirakan semakin melimpah mengingat RNI terus memproduksi gula. Produksi gula RNI berkisar 2.500 sampai 3.000 ton gula selama musim giling hingga Oktober 2017. Apalagi, rendeman tebu tahun ini naik mencapai 7,76 dari tahun lalu yang hanya 6,4.

“Cuaca lagi mendukung dan mesin di Rojo Agung Madiun juga baru. Di Rojo Agung saja, rendemannya 7,9 per 4 Agustus,” kata Didik saat ditemui di Tarakan, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Didik menargetkan produksi gula RNI pada tahun ini bisa mencapai 316 ribu ton. Naik sekitar 36 persen dari tahun lalu yang mencapai 283 ribu ton.

“Tahun 2015 lalu kita sisihkan stok 5 persen. Tapi tahun 2016, wajib diserahkan seluruhnya ke Bulog,” ujarnya seraya menerangkan jika Bulog ditugaskan membeli gula RNI untuk menstabilkan harga gula yang tinggi pada tahun lalu.

Di sisi lain, harga gula juga tidak bisa bersaing di pasar internasional. Menurut Didik, harga pasar gula internasional rata-rata hanya Rp 7.000.  “Ya jelas gula kita tidak laku kalau dijual ke luar,” kata dia.

Banyak faktor yang membuat gula produksi nasional kurang bersaing. Di antaranya, kualitas rendeman tebu yang tak optimal akibat bibit kurang baik hingga kurangnya proteksi dari pemerintah atas produksi gula dalam negeri.

“Di Thailand, mereka bahkan memiliki Undang-Undang Gula, Sugar Act, yang secara khusus melindungi dan mengatur produksi gula mereka,” kata Didik.

Dengan situasi kurang menguntungkan tersebut, pihaknya mengandalkan saluran distribusi internal melalui jejaring Rajawali Nusindo.  Sebanyak 42 cabang Nusindo yang tersebar di berbagai daerah kini diserahkan untuk menjual gula RNI langsung ke tangan konsumen dengan harga Rp 12.500. Apalagi, anak usaha RNI itu memang bergerak di bisnis perdagangan dan distribusi.

“Baru sebulan ini diterapkan di beberapa tempat. Baru Surabaya, Sidoarjo, Jogja, Lampung. Yang paling sulit ke Indonesia Timur. Jumlah kebutuhan sedikit, logistiknya parah,” kata Didik.

Tonton video menarik berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya