Johnson: DPR Selalu Terbuka dan Transparan Saat Membahas Anggaran

Menempati peringkat pertama dalam transparasi anggaran se-ASEAN menjadi kebanggaan tersendiri bagi DPR RI.

oleh Gilar Ramdhani diperbarui 11 Agu 2017, 17:46 WIB
Menempati peringkat pertama dalam transparasi anggaran se-ASEAN menjadi kebanggaan tersendiri bagi DPR RI.

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Keahlian DPR Johnson Rajagukguk menegaskan bahwa DPR selalu terbuka dalam menyelenggarakan rapat-rapat yang membahas perencanaan keuangan, sehingga hal wajar ketika GIZ menempatkan DPR sebagai lembaga legislatif yang paling transparan dalam fungsi budgeting se-ASEAN.

“Kita di peringkat pertama dalam transparansi. Karena dalam prosesnya, kita selalu menjalankannya peraturan. Keterbukaan kita tidak hanya pengelolaan anggaran, seluruh kegiatan di DPR selalu terbuka. Ini yang berbeda dengan parlemen di negara lain,” ujar Johnson dalam acara Dialektika Demokrasi, Kamis, (10/08).

Seperti diketahui, DPR menempati peringkat pertama dalam transparasi anggaran se-ASEAN versi penelitian Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Capaian ini menandakan proses demokrasi yang berjalan di Indonesia sudah sangat baik. Hasil penelitian ini juga menepis anggapan yang mengatakan DPR sebagai lembaga yang kurang transparan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Johnson menjelaskan keterbukaan DPR terlihat sejak awal-awal ingin menyusun undang-undang yang selalu menghimpun masyarakat sejak proses penyusunan program legislasi nasional (prolegnas).

“Kita sejak penyusunan program legislasi nasional prolegnas hingga penyusunan dan pengesahan selalu terbuka sehingga tidak ada yang ditutupi,” sambungnya.

Melihat capaian ini, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yakin bahwa alam demokrasi Indonesia telah masuk dalam capaian yang hebat sehingga hal ini harus diteruskan.

“Dari sisi performance-nya demokrasi, kita hargai Indonesia memasuki fase yang hebat,” tutur Fahri.

Hal ini pun menepis tudingan publik yang menilai DPR sebagai lembaga yang kurang transparan. Oleh karena itu, penilaian objektif sebagaimana yang dilakukan GIZ ini patut diapresiasi agar demokrasi yang berlangsung tidak digiring melalui opini dan asumsi publik yang tidak benar.

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya