Mampukah SDM RI Kembangkan Mobil Listrik?

Untuk mempercepat masuknya mobil listrik di jalan raya Indonesia, beberapa alternatif dapat dilakukan misalnya dengan membebaskan pajak.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 07 Agu 2017, 09:40 WIB
Mobil listrik

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyatakan bahwa sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini sangat siap untuk mendukung pengembangan mobil listrik.

Jonan mengatakan, SDM Indonesia mampu merakit mobil listrik karena sebenarnya SDM Indonesia sudah sangat mumpuni dalam industri perakitan. Untuk memproduksi mobil listrik, sebenarnya hanya mengganti komponen bahan bakar menjadi baterai. 

"Pembedanya hanya menghilangkan mesinnya diganti dengan baterai" kata Jonan, seperti yang dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, di Jakarta, Senin (‎7/8/2017).

Jonan menambahkan, dari sisi sumber daya manusia, Indonesia sudah siap, dan untuk mengisi daya listrik ke dalam baterai ada beberapa alternatif, misalnya menukar baterai yang kosong dengan baterai yang terisi penuh di stasiun pengisian. Hal ini seperti skema pengisian tabung Liquified Natural Gas (LPG).

"Kalau orang mikir tiap rumah harus ada colokan yang kira-kira 3.000 watt, 5.000 watt ya tidak jadi-jadi, ya sudah pokoknya seperti LPG 3 kg kalau habis tukar," jelas Jonan.

Mobil listrik adalah proses modernisasi sehingga perkembangannya tidak bisa dihindari. Karena itu, pengembangan mobil listrik menjadi prioritas dan dimasukkan dalam perhitungan pemerintah, mengikuti perkembangan global, terutama dalam menjawab isu perubahan iklim dan lingkungan. Sesuai dengan arahan Presiden, Indonesia sudah harus mulai mengadopsi kehadiran mobil listrik.

"Di Indonesia juga segera dimulai dengan menugaskan Kementerian ESDM untuk membuat keputusan presiden (keppres) yang intinya supaya mobil listrik itu bisa segera ada," lanjutnya.

Kehadiran mobil listrik mempunyai tiga keuntungan, pertama mengurangi emisi gas buang, kedua membuat udara lebih bersih dan yang ketiga modernisasi, sehingga mempunyai pilihan tetap menggunakan mobil berbahan bakar fosil atau menggunakan listrik.

"Kalau menurut saya menggunakan mobil listrik emisinya nol, polusinya tidak ada. Kita tidak bisa menghambat adanya perkembangan zaman termasuk modernisasi," ujar Jonan.

Untuk mempercepat masuknya mobil listrik di jalan-jalan raya Indonesia, beberapa alternatif dapat dilakukan, misalnya dengan membebaskan pajak bea masuk.

"Saya kira kalau bea masuk dan pajak atas barang mewah untuk mobil listrik dihapus, saya kira perkembangannya akan cepat tinggal kebijakannya mau melokalisasi produksi itu mau kapan, karena kalau menurut saya tidak bisa langsung, kalau mau dipaksa langsung saya tidak tahu, Gaikindo saya belum dengar pandangan bagaimana," tutup Jonan.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya