4 Bintang yang Pernah Gagal Saat Berseragam AC Milan

AC Milan setidaknya masih terus berupaya merekrut satu penyerang lagi.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 22 Juli 2017, 08:12 WIB
Para pemain AC Milan merayakan gol yang dicetak Carlos Bacca ke gawang Palermo pada laga Serie A di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Minggu (9/4/2017). (EPA/Matteo Bazzi)

Liputan6.com, Jakarta AC Milan dikenal sebagai salah satu klub Italia yang suka mendatangkan pemain-pemain bintang. Tren itu sudah berlangsung sejak lama. Belakangan, meski sempat vakum berbelanja pemain lantaran terlilit utang, Milan kembali mulai bergerilya, sejak kedatangan pemilik baru asal Tiongkok.

Sepuluh pemain sudah dibeli dan belanja masih belum berhenti. AC Milan setidaknya masih terus berupaya merekrut satu penyerang lagi. Pilihan jatuh pada beberapa nama, antara lain Andrea Belotti, Pierre Emerick Aubameyang, dan Nikola Kalinic.

Mengingat nama besar AC Milan, para pemain pun memimpikan dapat bergabung di dalamnya. Namun, membela klub besar seperti Milan tidaklah mudah. Tidak semua pemain yang bergabung dengan I Rossoneri menuai kesuksesan.

Menurut catatan, perbandingan pemain yang gagal dengan pemain yang sukses bersama Milan sama jumlahnya. Bahkan, pemain bintang sekalipun tak luput dari kegagalan. Liputan6.com merangkum empat pemain dengan nama besar yang gagal bersinar saat berseragam AC Milan.


Edgar Davids

Juventus' midfielder Edgar Davids, wearing sunglasses, takes part in the Unesco Cup football match Juventus Legends vs Real Madrid Leyendas on June 2, 2014 at the Juventus Stadium in Turin. MARCO BERTORELLO / AFP



Legenda Timnas Belanda, Edgar Davids pernah membela tiga raksasa Italia, Juventus, AC Milan, dan Inter Milan. Antara ketiganya, AC Milan adalah tempat pertama kali ia mendarat di Italia. Waktu itu musim panas tahun 1996, di mana ia direkrut dari Ajax Amsterdam dengan status bebas transfer.

Secara keseluruhan, Davids bermain di Serie A selama delapan tahun enam bulan (Juli 1996 - Juni 2005). Pada Januari 2004, pemain yang tampil dengan kaca mata pelindung itu sempat dipinjamkan ke Barcelona oleh Juventus selama enam bulan.

Davids memang dikenal sukses bersama Juventus. Bersama I Bianconeri-lah namanya mencuat sebagai salah satu gelandang bertahan paling tangguh di Eropa kala itu. Ia mempersembahkan tiga gelar Serie A (1997/1998, 2001/2002, dan 2002/2003) dan satu Piala Supercoppa Italiana (2003).

Namun saat berseragam Milan, Davids bisa dibilang gagal total. Selama dua musim, tak satupun gelar diberikan olehnya. Secara personal, catatan penampilannya juga buruk, di mana ia hanya bermain di 31 pertandingan dan mencetak 2 gol.


Fernando Redondo

3. AC Milan, era 90an dan awal 2000 klub asal Italia ini merupakan langganan Liga Champions. Namun kini sudah tiga musim Rossoneri absen, musim lalu mereka hanya mampu menghuni posisi ke-7 klasemen Serie A. (AFP)

Fernando Redondo juga bukan pemain sembarangan. Veteran Argentina itu pernah bermain sangat baik ketika membela Tenerife (1990-1994) dan Real Madrid (1994-2000). Kemampuannya mengatur tempo permainan serta passing-passing kreatifnya membuat lini tengah dua tim Spanyol itu menjadi kokoh.

Dalam catatan kariernya, Redondo turut membantu Madrid memenangkan dua gelar La Liga (1994/1995 dan 1996/1997), Supercopa de Espana (1997), dua gelar Liga Champions (1997/1998 dan 1999/2000), dan Piala Intercontinental (1998). Sedangkan untuk Timnas Argentina, ia mempersembahkan gelar Copa America di tahun 1993, dan Piala Konfederasi tahun 1992.

Atas pencapaiannya itu, AC Milan pun lantas membelinya di musim panas tahun 2000 dengan harga 17,5 juta euro. Akan tetapi, bersama Milan, performa Redondo menurun dratis dan sangat jarang dimainkan. Empat musim membela I Rossoneri, ia hanya tampil di 33 pertandingan, dan hanya menyumbang satu assist. Hal itu tidak terlepas dari cedera lutut yang dideritanya. Selama masa itu ia bolak-balik masuk ruang perawatan dan dengan kesadaran penuh ia menolak menerima gaji.

Karena frustasi dengan cederanya, Redondo pun menyudahi karier sepakbolanya seusai kontraknya dengan Milan habis pada tahun 2004.

Lanjut Baca:

AC Milan dikenal selalu memasukkan pemain asal Brasil ke dalam skuatnya. Hal itu sudah berlangsung lama dan seakan sudah menjadi tradisi. Namun, tak semua pemain asal Negeri Samba itu sukses bersama I Rossoneri. Kaka dan Serginho memang bersinar, tapi tidak demikian halnya dengan Rivaldo. Legenda yang sukses mengantarkan Brasil juara Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang itu gagal menunjukkan kelasnya kepada publik Milan.Pada saat perekrutannya, para Milanisti tentu sangat girang. Ia diharapkan dapat berkontribusi banyak banyak tim, seperti yang dilakukannya selama berseragam Barcelona (1997-2002). Apalagi, pada saat itu ia juga baru pulang dari Asia, membawa trofi Piala Dunia.Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Rivaldo gagal bersaing dan akhirnya cuma satu musim berada di San Siro. Setelah itu ia pulang ke kampung halamannya, dan bergabung dengan Cruzeiro.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya