Di Tengah Krisis Teluk, Kloter ke-6 Tentara Turki Tiba di Qatar

Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan rombongan ke-6 tentara Turki tiba di Ibu Kota Doha, untuk melakukan latihan militer gabungan.

oleh Rizki Akbar Hasan diperbarui 20 Jul 2017, 06:54 WIB
Tentara Turki di Qatar (Kementerian Pertahanan Qatar/Twitter)

Liputan6.com, Doha - Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan rombongan ke-6 tentara Turki tiba di Ibu Kota Doha pada Selasa 18 Juli 2017. Peristiwa itu terjadi di tengah tensi tinggi antara Qatar dengan negara tetangga dalam Krisis Teluk. 

Menurut Kemhan Qatar, kloter ke-6 tentara Turki itu akan ambil bagian dalam latihan militer gabungan bersama yang diselenggarakan oleh kedua negara. Demikian seperti yang diwartakan oleh Al Araby, Rabu (19/7/2017).

Kemhan Qatar menambahkan, para pasukan kedua negara akan ambil bagian dalam misi pelatihan, di bawah kerja sama militer antara Ankara dan Doha. Tujuannya adalah untuk melawan aktivitas terorisme, menjamin stabilitas dan keamanan, serta meningkatkan kapabilitas pasukan kontra-terorisme di kawasan.

"Kedatangan rombongan ke-6 tentara Turki ke Qatar merupakan keberlanjutan dari kerja sama kedua negara dalam melawan terorisme dan kelompok kekerasan berbasis ekstremisme," jelas Kemhan Qatar lewat akun Twitter resminya.

Rombongan tentara Turki itu akan bergabung bersama kompatriotnya yang telah lebih dulu tiba di Qatar. Rombongan pertama telah menginjakkan kaki di Doha sejak 8 Juni lalu untuk melaksanakan latihan militer dan parade tank di kamp batalion Tariq bin Ziyad.

Rangkaian latihan militer itu berlangsung di tengah krisis yang melanda Qatar di Teluk dan Timur Tengah. Memasuki minggu ke-6, krisis yang ditandai dengan pemutusan hubungan diplomatik Qatar oleh Arab Saudi Cs itu, belum menunjukkan tanda-tanda resolusi.

Pada 5 Juni 2017, Arab Saudi, Mesir, Bahrain, UEA, Yaman, Mauritius, Mauritania, Maladewa, dan Libya melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar. Salah satu alasan pemutusan itu adalah tuduhan bahwa Doha mendukung aktivitas dan kelompok terorisme di kawasan.

Sementara itu, pada 23 Juni 2017, Arab Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab mengeluarkan daftar 13 tuntutan yang "masuk akal dan dapat segera ditindaklanjuti". Pada daftar itu, Qatar diminta untuk memenuhi tuntutan yang telah diajukan, agar krisis dapat segera dihentikan.

Namun, daftar tuntutan tersebut dimentahkan Doha dan Saudi Cs menganggap daftar tuntutan tersebut "batal demi hukum". Hingga saat ini, Kuwait masih berupaya menjadi juru damai bagi pihak-pihak yang bertikai.

Sejumlah pihak juga turut membantu mendamaikan situasi, seperti Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson. Pada Sabtu lalu, ia dikabarkan berkunjung ke Saudi, Kuwait, dan Qatar demi membahas penyelesaian krisis.

Saat ini, Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson juga dikabarkan telah mendarat di Kuwait. Tujuan kedatangannya adalah untuk membuka peluang pembicaraan demi mengakhiri kebuntuan diplomatik antara Qatar dan negara-negara tetangganya.

Tak hanya mengunjungi Kuwait, Tillerson juga akan menyambangi Qatar dan Saudi. Awal dari krisis Teluk ini sendiri berasal dari tuduhan Saudi Cs bahwa Qatar mendukung serta mendanai ekstremisme dan terorisme. Doha berulang kali membantah tudingan tersebut.

Saksikan juga video berikut ini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya