Kebijakan Moneter AS Belum Jelas, Rupiah Kembali Menguat

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah di bergerak di kisaran 13.306 per dolar AS hingga 13.322 per dolar AS.

oleh Arthur Gideon diperbarui 18 Jul 2017, 13:35 WIB
Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah di bergerak di kisaran 13.306 per dolar AS hingga 13.322 per dolar AS.

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Selasa pekan ini. Sentimen yang mempengaruhi gerak rupiah lebih banyak dari luar. 

Mengutip Bloomberg, Selasa (18/7/2017), rupiah dibuka di angka 13.318 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.326 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.306 per dolar AS hingga 13.322 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 1,22 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.314 per dolar AS, stabil jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 13.313 per dolar AS.

Dolar AS memang kembali tertekan pada perdagangan hari ini. Pelemahan dolar AS karena belum adanya kejelasan mengenai langkah pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS.

Selain itu, senator dari partai Republik yaitu Jerry Moran dan Mike Lee, mengumumkan penolakan mereka terhadap revisi kebijakan kesehatan AS yang diajukan oleh Pemerintahan Presiden Donald Trump.

"Jika kebijakan tersebut tidak bisa tembus, maka akan mengganggu keamanan fiskal," jelas analis State Street di Tokyo, Jepang, Bart Wakabayashi.

Ekonom PT Samuel Sekuritas, Rangga Cipta menjelaskan, rupiah masih di tren penguatan pada perdagangan Senin, mengikuti penguatan kurs Asia terhadap dolar AS. Surplus perdagangan pada Juni 2017 yang naik ke level tertinggi semenjak 2012 tidak terlalu mendorong penguatan rupiah karena anjloknya impor dibanding kenaikan ekspor.

"Rupiah masih berpeluang menguat melihat dollar yang konsisten melemah di pasar global," jelas dia. 

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya