Kisah Liseum, Nenek Penjemur Kentang yang Mengurus Tiga Cucu

Kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Nenek satu anak dan tiga cucu tersebut menceritakan kegetiran hidup yang selama ini ia alami.

oleh Gilar Ramdhani diperbarui 23 Jun 2017, 14:57 WIB
Kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Nenek Liseum menceritakan kegetiran hidup yang selama ini ia alami.

Liputan6.com, Jakarta Senyum Liseum (65) tersungging melihat aksi lawak yang diperagakan oleh Ohang dan Bupati Purwakarta saat menghibur warga Desa Tajurhalang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor pada Rabu (7/6).

Kegiatan tersebut memang rutinitas yang dilakukan oleh Dedi yang juga bertindak sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat. Ia membawa karavan seninya untuk berkeliling daerah, bersilaturahmi, melihat dan membaca persoalan yang saat ini tengah mendera publik Jawa Barat.

Setelah melempar lawakan ringan, Ohang kemudian menyanyikan sebuah lagu, pelawak asli kelahiran Sunda itu kemudian meraih tangan Liseum untuk ikut naik ke atas pentas. Ekspresi kaget dengan raut keluguan mengiringi langkah renta Sang Nenek, pandangan matanya yang kosong menyiratkan ia tengah didera berbagai persoalan hidup.

Karena guyonan Ohang, sedikit demi sedikit tawa mulai menghiasi wayahnya yang berkeriput dan tampak bekas terpaan sinar matahari di wajahnya, dengan kedua tangan bertekstur kasar. Semua itu menjadi cermin bahwa Sang Nenek adalah seorang pekerja keras.

Kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Nenek satu anak dan tiga cucu tersebut menceritakan kegetiran hidup yang selama ini ia alami.

“Emak punya satu anak dan tiga cucu. Emak sendiri bingung, mengapa tiga cucu emak ini malah diterlantarkan oleh anak mak,” keluh Liseum kepada Dedi.

Penghasilannya sebagai tulang punggung keluarga dengan profesi sebagai buruh penjemur kentang di sebuah pabrik makanan tak lupa ia ungkapkan kepada Dedi. Jumlah uang sebesar Rp25 ribu ia dapatkan dari hasil pekerjaannya. Sementara, sang suami diketahui telah lama meninggal akibat menyakit muntaber akut yang ia derita.

“Suami emak sudah meninggal 10 tahun lalu karena sakit muntaber. Untuk sehari-hari, emak mengandalkan penghasilan sebagai penjemur kentang di pabrik,” tambahnya.

Uang Rp25 ribu ternyata harus ia bagi selain untuk makan dirinya, juga untuk membiayai ketiga cucunya. Tekad dan kecintaan kepada cucunya itu menjadikan Liseum terus bersemangat dan bersyukur menjalani kehidupan sehari-hari.

“Cucu paling besar sudah SMA, yang kedua di SMP, dan yang bungsu masih SD. Uangnya selalu tidak cukup, tapi alhamdulillah emak syukuri saja,” tuturnya lirih.

Terus menerus ditanya tentang keberadaan Ibu dari cucunya oleh Dedi Mulyadi, Liseum nampak enggan terlalu lama membahas tentang anaknya itu. Ia mengaku tidak habis pikir mengapa anaknya tega membuat tiga cucunya itu terlantar.

“Suami pertamanya kabur, kemudian cerai. Anak saya menikah lagi dengan pria asal Jakarta tapi tidak pernah kembali,” tandasnya.

Selama Liseum menceritakan kisah diri dan ketiga cucunya. Suasana haru tampak menyelimuti ribuan penonton yang hadir. Puluhan diantaranya, tak kuasa menahan tangis air mata. Tak terkecuali, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Untuk mengurangi beban Liseum, Dedi memberikan bantuan modal usaha sebesar Rp10 Juta. Tak lupa ia memberikan nasehat kepada ketiga cucu Liseum agar tetap sabar dan tabah juga terus berusaha menjadi lebih baik lagi.

Seketika, tangisan kembali pecah, bukan hanya Liseum, tetapi seluruh penonton yang hadir merasakan kegetiran yang sama dengan pengalaman hidup yang dialami oleh Liseum dan ketiga cucunya.

Dedi mengatakan bahwa hal yang dialami oleh Liseum bukan hanya terjadi di satu tempat. Melainkan, di berbagai tempat di Jawa Barat bahkan Indonesia. Seharusnya, menurut Dedi, seorang anak harus mampu menyenangkan orang tua, bukan malah merepotkan di usia senja.

“Kejadian seperti ini banyak terjadi, bukan hanya orang tua menelantarkan anaknya, tetapi di Garut ada anak yang berani menggungat orang tuanya sendiri,” pungkas Dedi.

 

Powered By:

Kabupaten Purwakarta

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya