Canggihnya Mobil Listrik Mahasiswa UII untuk Ajang Formula SAE

Semua sensor yang ada di mobil listrik bisa membaca dan melaporkan langsung ke ponsel android.

oleh Herdi Muhardi diperbarui 10 Mei 2017, 13:03 WIB
Desain 3D Mobil Listrik Mahasiswa UII. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Kehebatan putra-putri bangsa dalam hal otomotif pada dasarnya tak perlu diragukan lagi. Kini, rekor baru siap dicetuskan mahasiwa Universitas Islam Indonesia yang tergabung dalam tim Ulil Albab Student Center (UASC).

Ya, tim UASC dengan mobil buatanya ‘Kaliruang Unisi’ kini ditantang untuk ikuti dalam lomba balap mobil listrik Formula SAE tingkat International 2017 yang dihelat di tiga negera, yakni Italia, Jepang dan Australia.

Tim UASC telah berhasil mengembangkan teknologi mobil listrik yang terintegrasi dengan Android dalam satu tahun terakhir, sehingga mengantarkan timnnya menjadi juara 1 di kategori best technology di Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) 2016.

Fandi dan kawan-kawan memang belum membuat mobil untuk lomba. Hanya saja, secara desain 3D dirinya dan tim telah membuat dengan perhitungan yang sangat detail. Mereka tinggal menerapkan dan mengembangkan dari mobil yang sudah ada.

Foto dok. Liputan6.com

“Seluruh sistem penggerak dan utilisasi telah terkoneksi dengan ponsel Android, sehingga semua perangkat sensor yang ada di mobil bisa membaca dan melaporkan langsung ke ponsel Android,” ungkap Fandi, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Foto dok. Liputan6.com

Kecanggihan mobil buatan UASC lainnya, bisa dikemudikan seperti mirip mobil otonomos yang saat ini dikembangkan pabrikan otomotif dunia, yakni menggunakan remote control atau dikendalikan melalui Android.

“Untuk lomba nanti Formula SAE tingkat International 2017, tentunya mobil akan kami rombak kembali dan dikembangkan jauh lebih baik lagi dari generasi yang ada saat ini,” ujarnya.

Perlu diketahui, sebelum lahir mobil listrik untuk balap nanti, UASC telah membuat Kaliurang Unisi generasi dua yang dirancang sesuai spesifikasi kompetisi mobil listrik dengan fokus pada kecepatan dan kestabilan.

Kata dia, mobil listriknya dibekali mesin listrik magnet permanen berdaya 2000 Watt setara tiga Tk, dengan torsi mencapai 80 Nm, sumber energi yang digunakan berasal dari baterai lithium polymer berkapasitas 20 Ah dengan kemampuan discharge mencapai 600 A.

Bobot baterai sendiri hanya 5 Kg, hal ini semakin membuat Kaliurang Unisi generasi dua tergolong ringan, sehingga mampu melaju lebih cepat dengan torehan waktu 65 km/jam dan mengantarkan tim menjadi juara 1 uji kecepatan secara nasional.

Seperti mobil balap pada umumnya, Kaliurang juga menggunakan sayap belakang untuk meningkatkan downforce. Bagian ini dipercaya dapat menekan mobil ke arah bawah, khususnya saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.

Dengan begitu, ban tetap melekat dengan jalan, sehingga mobil listrik ini bisa melaju stabil di kecepatan tinggi tanpa slip atau tergelincir.

Inovasi karya tim UASC juga telah menggunakan Battery Manajemen System (BMS). Sel baterai lithium polymer memiliki perlakuan khusus dalam proses pengisian, pengosongan, dan penyeimbangan muatan listriknya, hal itu tidak bisa dilakukan secara manual terus menerus oleh manusia.

Saat ini, mobil listrik Kaliurang Unisi memiliki kemampuan IoT (Internet of Things), di mana mobil bisa terkoneksi ke internet dan terhubung dengan semua peralatan berbasis jaringan di seluruh dunia mirip seperti skynet dalam film Terminator.

“Dengan kemampuan ini, mobil listrik Kaliurang Unisi mampu menulis status Facebook dan Twitter dengan sendirinya, tidak ada yang mengendalikan, semua aksi yang dilakukan oleh mobil tersebut di media sosial. Semua dia lakukan atas kehendaknya sendiri, biasanya yang sering di Tweet oleh mobil tersebut adalah suhu, meskipun beberapa waktu terkadang suka ngetweet tentang kecepatan. Para programmer tim UASC UII menjulukinya sebagai ‘Server Berjalan’,” jelasnya.

Namun sayang, hasil karya gemilang tim UASC ini sedang berada di ujung tanduk, lantaran kurangnya dana yang harus dikuncurkan, yaitu sebanyak Rp 5 miliar. Angka tersebut, kata Fandi Pasaribu, Ketua Tim UASC, digunakan untuk pembuatan mobil sebesar Rp 1,5 miliar dan akomodasi tim serta keperluan lainnya yang mencapai Rp 3,5 miliar.

 

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya