Arab Saudi Akuisisi Kilang Minyak Terbesar di AS

Sebelumnya Aramco memiliki 50 persen saham di Port Arthur melalui perusahaan patungan dengan Royal Dutch Shell.

oleh Dhita Koesno diperbarui 03 Mei 2017, 07:45 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Kilang minyak terbesar Amerika Serikat sekarang sepenuhnya dimiliki oleh Arab Saudi. Adalah Saudi Aramco, perusahaan minyak raksasa milik kerajaan Saudi mengambil alih 100 persen kontrol kilang minyak Port Arthur di Texas pada Senin 1 Mei 2017 usai menyelesaikan sebuah kesepakatan yang diumumkan pertama kalinya pada tahun lalu.

Port Arthur dianggap sebagai mahk​ota permata sistem kilang minyak di AS. Fasilitas Teluk Pantai itu dapat memproses hingga 600.000 barel minyak per hari yang menjadikannya kilang terbesar di Amerika Utara.

Saudi Aramco sebelumnya memiliki 50 persen saham di ​Port Arthur melalui perusahaan patungan dengan Royal Dutch Shell (RDSA) yang bernama Motiva Enterprises.


Namun kedua perusahaan minyak raksasa ini memiliki hubungan yang erat hingga​ menghasilkan kesepakatan pada Maret 2016 lalu untuk memisahkan aset mereka. Shell mengeluarkan sebuah pernyataan pada Senin yang mengkonfirmasikan "penyelesaian" dari pemutusan tersebut.

Selain Port Arthur, Aramco juga mengakuisisi kepemilikan penuh atas 24 terminal distribusi. Aramco juga mendapat hak eksklusif untuk menjual bensin dan diesel bermerek Shell di Georgia, North Carolina, South Carolina, Virginia, Maryland, Texas bagian timur dan sebagian besar wilayah Florida.

Kesepakatan Aramco memungkinkan raksasa minyak tersebut untuk menopang salah satu pelanggan terbaiknya di AS menjelang IPO tahun depan. Kini setelah menguasai kilang Amerika Serikat terbesar, Aramco dapat mengirim lebih banyak minyak mentah Saudi ke AS untuk dijual kembali ke para pengemudi di Amerika Utara.

Arab Saudi memang sudah menjadi sumber minyak mentah terbesar kedua di Amerika, setelah Kanada. AS mengimpor sebanyak 1,3 juta barel minyak mentah Saudi per harinya di bulan Februari, jumlah ini naik 32 persen dari tahun lalu, demikian menurut Informasi Administrasi Energi seperti dilansir CNN Money.

Arab Saudi berharap IPO Aramco akan bernilai US$ 2 triliun. Kerajaan ini terus bergulat dengan harga minyak yang rendah dan anggaran yang membengkak, sehingga sangat penting bahwa IPO Aramco bisa tetap bergerak tanpa hambatan.

Arab Saudi yang merupakan eksportir minyak terbesar di dunia, secara dramatis mengurangi pajak pada Aramco pada Maret dalam upayanya untuk mere​dam kekhawatiran tentang valuasi raksasa minyak tersebut.

Bahkan saat Arab Saudi memperluas jangkauannya di AS, Trump secara administrasi sebenarnya telah mendorong kemandirian energi Amerika dengan melepaskan industri energi dalam negeri. Trump mengatakan dalam pidatonya pada  Mei 2016, dia ingin membawa kemerdekaan dari "musuh dan kartel minyak".

Trump juga mengancam sebelum dia memutuskan untuk menghentikan impor minyak dari Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya jika mereka tidak melakukan perlawanan terhadap ISIS melalui pasukan di darat.

Setelah Trump terpilih, menteri energi Arab Saudi Khalid al-Falih memperingatkan pemblokiran minyak mentah dari kerajaan tersebut tentu saja bisa menjadi bumerang.

"Trump akan melihat manfaatnya dan saya pikir industri minyak juga akan menasihatinya agar menghalangi perdagangan produk apapun yang tidak sehat," kata Falih pada November.

Meskipun ada retorika itu, hubungan antara AS dan Arab Saudi tampaknya membaik di bawah pimpinan Trump. Wakil Mahkota Pangeran Arab Saudi​,​ Mohammed bin Salman bertemu dengan Trump di Oval Office pada  Maret, sebuah pertemuan yang digembar-gemborkan oleh Saudi sebagai "titik balik bersejarah" antara kedua negara.​

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya