Takut Kena Tulah, Warga Lepas Lumba-Lumba Lucu ke Laut

Lumba-lumba itu sudah sempat dipelihara warga selama satu hari sebelum akhirnya dilepaskan.

oleh Mohamad Fahrul diperbarui 25 Apr 2017, 20:00 WIB
Lumba-lumba itu sudah sempat dipelihara warga selama satu hari sebelum akhirnya dilepaskan. (Liputan6.com/Mohammad Fahrul)

Liputan6.com, Sumenep - Warga pesisir di Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur berbondong-bondong membawa seekor lumba-lumba ke pantai setempat. Menggunakan mobil pikap, mereka melepas hewan mamalia laut itu kembali ke habitatnya, Selasa (25/4/2017).

Alasan warga melepas ikan yang sudah dipelihara satu hari sejak terdampar itu karena mitos. Beredarnya mitos jika tidak melepas ikan lumba-lumba yang terdampar akan membawa malapetaka membuat warga mengurungkan niat untuk memelihara mamalia tersebut lebih lama. Mereka tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Warga di sini merasa takut ketika mendengar mitos akan terjadi malapetaka apabila ikan lumba-lumba ini dipelihara. Makanya warga inisiatif melepasnya agar tidak terjadi malapetaka di desa kami tinggal," kata salah satu warga yang ikut melepas lumba-lumba, Nawi (53) kepada Liputan6.com.

Selama satu hari dipelihara, lumba-lumba itu menjadi idola warga. terutama anak-anak yang menyukai mamalia cerdas ini.

Nawi menjelaskan, keinginan memelihara lumba-lumba yang terdampar pada Senin, 24 April 2017, sekitar pukul 07.00 WIB itu hanya karena ingin menuruti kemauan anak-anak untuk membawa pulang ke rumah. Akhirnya para orangtua menuruti kemauan anak-anak tersebut.

"Itu kemarin anak-anak di sini sedang menjaring ikan di laut, ternyata ada lumba-lumba terdampar. Anak-anak itu ngotot agar ikan tersebut dibawa pulang, bahkan karena tak kunjung dibawa pulang anak-anak ini ada yang nangis, terpaksa dibawa ke darat oleh warga," ucap dia.

Setelah tiba di darat ikan lumba-lumba dengan panjang sekitar 170 centimeter dan berat 100 Kg dilepas di media menggunakan terpal yang diberi air laut agar tetap hidup. Ikan itupun bergerak normal meski hanya tinggal sendirian di tempat alternatif yang dibuat oleh warga.

Lumba-lumba itu sudah sempat dipelihara warga selama satu hari sebelum akhirnya dilepaskan. (Liputan6.com/Mohammad Fahrul)

Usai dibawa pulang, kemudian muncul mitos menakutkan. Mitos yang beredar menyebutkan jika memelihara lumba-lumba terdampar akan membawa malapetaka.

"Selain mitos, kami juga baru tahu kalau lumba-lumba dilindungi. Makanya warga bergegas segera melepas sebelum terjadi sesuatu pada ikan tersebut. Seandainya tahu kemarin kalau itu dilindungi, jelas tidak akan dibawa ke daratan," kata Nawi.

Lumba-lumba terdampar yang ditemukan oleh Dadang (14) dan dibawa pulang ke rumahnya itu sempat nyangkut terbawa jaring nelayan di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, sekitar pukul 05.00 WIB. Ikan tersebut kemudian dilepas dan terseret ke arah timur hingga ditemukan terdampar oleh anak-anak yang sedang menangkap ikan.

"Biasanya kalau tertangkap oleh nelayan, lumba-lumba itu akan dilepas. Karena sejak dulu mitos itu sudah beredar, sehingga nelayan tidak ingin ada resiko yang membahayakan dirinya," kata warga Desa Legung Timur, Miftahul Ulum (23) menambahkan.

Mitos lain soal lumba-lumba yang terdampar maupun tertangkap kemudian tidak dilepas ke laut juga muncul di kalangan nelayan setempat. Maka apabila membawa mamalia dilindungi tersebut pulang ke rumahnya, baik kondisi hidup maupun mati, nantinya mereka akan kesulitan mendapatkan tangkapan ikan saat melaut, akibatnya mereka akan selalu mengalami kerugian.

Adapun, lumba-lumba itu dilepas kembali ke laut dengan tempat yang digunakan saat dipelihara selama sehari oleh warga. Dengan wadah terpal dan diberi air laut, ikan itu dilepas dari pinggir pantai. Sehingga saat dilepas ke laut ikan itu masih terlihat sehat dan berenang sambil memunculkan kepala serta ekornya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya