Bapak Pembawa Jenazah Bayi Dalam Tas Maafkan Gubernur Bengkulu

Berita kenekatan Aspin demi memakamkan bayinya di kampung halaman, ternyata sampai ke telinga Gubernur Bengkulu.

oleh Yuliardi Hardjo Putro diperbarui 16 Apr 2017, 18:03 WIB
Gubernur Bengkulu mendatangi kediaman Aspin Ekwandi, bapak pembawa mayat bayinya dalam tas belanja di Kabupaten KAur dan meminta maaf secara langsung atas kelalaian birokrasi (Liputan6.com/Yuliardi Hardjo)

Liputan6.com, Bengkulu - Aspin Ekwandi, bapak yang terpaksa membawa jenazah bayinya dengan tas belanja bersama istrinya Sri Sulasmi mendapat kunjungan istimewa dari Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti. Berita kenekatannya demi memakamkan bayinya di kampung halaman tersebut, ternyata sampai ke telinga gubernur dan langsung merespons secara cepat.

Gubernur Bengkulu yang datang pada Sabtu malam, 15 April 2017, membuat keluarga besar Aspin dan para tetangga kaget. Sebab, desa mereka yang sangat jauh dengan jarak tempuh lebih dari lima jam dari Kota Bengkulu itu didatangi puluhan kendaraan dan para pejabat daerah Bengkulu.

"Gubernur secara langsung meminta maaf dan mengakui kelalaian dilakukan oleh anak buahnya dan tentu saja kami memaafkan," ucap Aspin saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (16/4/2017).

Selain meminta maaf, Gubernur Ridwan juga berjanji akan memperbaiki jasa layanan rumah sakit, terutama bagi warga miskin. Hal ini tentu saja melegakan tidak hanya bagi keluarga Aspin, tapi juga bagi warga miskin di Provinsi Bengkulu secara luas.

Gubernur juga berjanji akan mencabut peraturan gubernur (pergub) yang mengatur tentang jasa layanan rumah sakit. Serta menggantinya dengan peraturan baru yang lebih baik dan memperhatikan kebutuhan masyarakat miskin di Bengkulu.

"Janji itu dia ucapkan secara serius, kami percaya karena dia mau datang ke kampung kami saja merupakan bentuk keseriusannya," Aspin menambahkan.

Sebelumnya, Aspin Ekwandi nekat membawa jenazah bayinya pulang ke kampung halaman di Kabupaten Kaur yang dimasukkan dalam tas belanja warna merah. Karena dia tidak mampu membayar uang sewa jasa ambulans sebesar Rp 3,2 juta yang diminta manajemen RSUD M Yunus Bengkulu.

Adapun bayi belum genap seminggu dilahirkan istrinya di RSUD Kaur melalui proses persalinan operasi bedah cesar tersebut dirujuk ke RSUD M Yunus Bengkulu karena didiagnosis mengalami kelainan pada paru paru. Hanya satu hari dirawat di RSUD M Yunus, bayi Aspin berjenis kelamin perempuan itu mengembuskan napas terakhir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya