3 Fakta Mengagumkan tentang Plasenta

Kehadiran plasenta ini penting bagi pertumbuhan janin yang sehat. Di luar itu, masih ada fakta mencengangkan tentang plasenta.

oleh Benedikta Desideria diperbarui 13 Apr 2017, 16:30 WIB
Kehadiran plasenta ini penting bagi pertumbuhan janin yang sehat. Di luar itu, masih ada fakta mencengangkan tentang plasenta.

Liputan6.com, Jakarta Plasenta atau ari-ari berfungsi mengirimkan gizi dan oksigen dari darah ibu pada janin. Kemudian plasenta membentuk pertahanan atas infeksi dan obat-obatan tertentu. Oleh karena itu, kehadiran plasenta ini penting bagi pertumbuhan janin yang sehat.

Namun di sisi lain, masih masih banyak fakta mengagumkan tentang plasenta. Mengutip Live Science, Kamis (13/4/2017) berikut penjelasannya.

1. Memprediksi risiko depresi pascamelahirkan

Hormon bernama placental corticotropin-releasing hormone (pCRH) bukan penyebab depresi usai melahirkan. Namun, kehadiran pCRH yang tinggi bisa menjadi peringatan dini wanita tersebut mengalami risiko depresi usai melahirkan. Fakta ini diketahui dalam pertemuan pada American Psychiatric Association tahun 2013.

Sebelum dikubur, bidan cantik ini mengabadikan plasenta dan bayi dalam sebuah foto menyentuh hati.

2. Beri tanda akhir kehamilan

Ketika janin sudah siap untuk keluar melihat dunia, terjadi perubahan pada plasenta. Terdapat perubahan substansi corticotropin-releasing hormone (CRH) yang tinggi saat wanita akan melahirkan. Sehingga ketika tingkat CRH tinggi, menurut peneliti dalam jurnal Science Signaling, merupakan sinyal tubuh siap untuk melahirkan.

3. Bisa dimakan, tapi tidak terbukti manfaatnya

Placentaphogaia adalah istilah aktivitas mengonsumsi plasenta usai melahirkan pada spesies mamamalia, kecuali yang habitatnya di air, menurut studi di Februari 1980. Manusia pun kemudian meneliti manfaat mengonsumsi makan plasenta.

Para selebritas seperti Kourtney Kardashian mengolah plasenta menjadi makanannya. Ada pula yang membuat plasenta menjadi bubuk. Dikabarkan hal ini mampu membantu mempermudah menyusui ataupun mencegah depresi.

Namun, dalam 10 studi ilmiah yang ada tidak ada manfaat sehat seorang ibu mengonsumsi plasenta. Hal ini terungkap dalam jurnal Archives of Women's Mental Health yang diterbitkan pada Oktober 2015.

 

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya