Barometer Pekan Ini: Jejak Kapal Pesiar di Raja Ampat

Kerusakan terumbu karang Raja Ampat mencapai 13.522 meter persegi, jauh dibanding tafsiran awal sekitar 1.600 meter persegi.

oleh Liputan6 diperbarui 18 Mar 2017, 19:23 WIB
Kerusakan terumbu karang Raja Ampat mencapai 13.522 meter persegi, jauh dibanding tafsiran awal sekitar 1.600 meter persegi.

Liputan6.com, Raja Ampat - Raja Ampat memiliki kekayaan terumbu karang terbaik di Indonesia dan salah satu yang terbaik di dunia. Selain ratusan jenis karang, kekayaan flora dan fauna yang mencapai ribuan jenisnya juga mengundang decak kagum.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Sabtu (18/3/2017), menyelam di Raja Ampat, jika beruntung, kita bisa melihat spesies-spesies unik yang tak ada di tempat lain. Namun, saat ini kondisi terumbu karang di Raja Ampat rusak parah.

Dalam video dari Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat, tampak terumbu karang yang rusak. Kehidupan flora dan fauna musnah. Ikan-ikan pun tak tampak lagi banyak berenang.

Sedangkan di sudut bawah laut lainnya juga tampak kerusakan terumbu karang.
Pesona keindahan terumbu karang di perairan Raja Ampat pun sirna sudah.

Kerusakan akibat kandasnya kapal pesiar Inggris pada 4 Maret 2017 lalu itu merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan. Bukan tanpa alasan, kawasan konservasi tersebut adalah lokasi wisata unggulan Nusantara.

Atas kerusakan ini, pemerintah siap mengajukan gugatan kepada pemilik kapal Caledonian Sky. Kapten kapal, Keith Michael Taylor, yang berada di Filipina akan dipanggil untuk diperiksa.

Sementara itu, kasus ini juga mendapat perhatian serius Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Menurut Luhut, Indonesia memiliki peluang kuat untuk mengajukan tuntutan ganti rugi atas rusaknya terumbu karang.

Rusaknya terumbu karang di Raja Ampat berawal dari masuknya kapal MV Caledonian Sky yang dinakhodai kapten Keith Michael Taylor. Kapal tersebut membawa 102 turis dan 79 anak buah kapal (ABK).

Di saat melanjutkan perjalanan ke Bitung, Kapal MV Caledonian Sky kandas di atas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat. Kapten Keith Michael Taylor merujuk pada petunjuk GPS dan radar tanpa mempertimbangkan faktor gelombang dan kondisi alam lainnya.

Saat kapal kandas, sebuah kapal penarik atau tug boat berupaya mengeluarkan kapal pesiar tersebut. Upaya tersebut awalnya tidak berhasil karena terlalu berat. Tapi, kapten terus berupaya menjalankan kapal hingga akhirnya berhasil kembali berlayar.

Namun demikian, kerusakan terumbu karang semakin parah karena penarikan kapal pesiar menggunakan tug boat yang salah. Menindaklanjuti hal ini, Kementerian Perhubungan juga tengah memastikan penyebab kandasnya kapal.

Saat ini, pesona keindahan bawah laut Raja Ampat menjadi korban. Terumbu karang di wilayah tersebut rusak berat. Apalagi, terumbu karang yang rusak termasuk dalam zona inti di Raja Ampat.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus menyelidiki kerugian yang ditimbulkan. Data terbaru, kerusakan terumbu karang mencapai 13.522 meter persegi atau jauh dibanding tafsiran awal sekitar 1.600 meter persegi.

Tak hanya itu, reaksi juga muncul dari masyarakat. Sebuah petisi diluncurkan menuntut perusahaan Noble Caledonia tidak hanya memberi kompensasi berupa uang. Tapi, juga ikut memperbaiki kerusakan terumbu karang.

Melalui situs resminya, Noble Caledonia meminta maaf atas insiden di perairan Raja Ampat. Perusahaan menyanggupi membayar ganti rugi dan mendatangkan tim ekspedisi khusus untuk ikut dalam proses perbaikan dan regenerasi terumbu karang.

Sementara setelah sempat kandas di Raja Ampat, kapal Caledonian Sky terus melanjutkan perjalanan ke Filipina. Izin keluar dari zona perairan Raja Ampat dikeluarkan oleh Syahbandar setempat dan kini tengah diinvestigasi.

Saat ini pemerintah belum menyebut nilai klaim ganti rugi terumbu karang Raja Ampat yang akan diajukan. Namun, meski perusahaan asuransi bersedia membayar kerugian, hukum harus tetap ditegakkan.

Bagaimana kerusakan terumbu karang yang terjadi di Raja Ampat? Saksikan video selengkapnya dalam Barometer Pekan Ini berikut ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya