2 Negara Ini Jadi Bukti Infrastruktur Pacu Ekonomi

Pembangunan infrastruktur menjadi motor penting bagi pertumbuhan ekonomi.

oleh Achmad Dwi Afriyadi diperbarui 10 Mar 2017, 14:30 WIB
Suasana proyek pembangunan MRT di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (5/7). Pengerjaan proyek infrastruktur di Jakarta dan sekitarnya libur sementara karena para pekerja memperoleh libur Lebaran. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Bali - Pembangunan infrastruktur menjadi motor penting bagi pertumbuhan ekonomi. Hal ini terbukti sebagaimana terjadi di berbagai negara.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mencontohkan dua negara yang akhirnya menjadi besar karena pembangunan infrastruktur. Dua negara itu ialah Amerika Serikat (AS) dan China.

Bambang mengatakan, AS mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat karena pembangunan jalan (interstate highway) yang menghubungkan negara-negara bagian AS.

"Kenapa pertumbuhan ekonomi AS mengalami booming ketika namanya national highway system selesai. Jadi namanya interstate highway, state highway itu kunci pertumbuhan ekonomi AS. Kenapa AS negara kontinen sangat besar, potensi hanya bisa muncul jika setiap negara bagian punya kontribusi," jelas dia dalam acara Underwriting Network di Bali Jumat (10/3/2017).

Dia bilang, jalan penghubung itu menjadi kunci kesuksesan AS. Jalan juga menjadi simbol konektivitas AS.

"Kalau naik mobil di inter state ketemu truk besar kontainer panjang membuat ekonomi AS booming sampai hari ini, simbol konektivitas AS," ujar dia.

Contoh kedua ialah China. Ekonomi China tumbuh karena geliat pembangunan infrastruktur. Alhasil, investor pun berduyun-duyun ke Negeri Tirai Bambu itu.

"Kita ke Chengdu, Nanjing misalkan kita akan melihat di kategori China di kategori menengah. Kualitas infrastruktur jauh lebih bagus dari Jakarta yang kota utama Indonesia. Dengan highway besar, airport luar biasa besar," jelas dia.

Dia menegaskan, pembangunan infrastruktur bukan sekadar soal gengsi. Namun, itu kunci pertumbuhan ekonomi nasional.

"Demikian juga kereta cepat. Mereka kereta cepat tidak mikir Jakarta-Bandung 100 km, tapi Beijing Shanghai, satu utara satu selatan. Artinya infrastruktur bukan simbol gagah-gagahan. Itu sumber pertumbuhan ekonomi dan alat menarik investor masuk," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya