5 Mahasiswa STIE Tazkia Jadi Perintis Jalur Pendakian 2 Gunung

Menariknya pendakian ini adalah pembukaan jalur pertama di gunung tersebut.

oleh Angga Utomo diperbarui 22 Feb 2017, 17:30 WIB
Mereka harus survive menghadapi lebatnya hutan.

Liputan6.com, Jakarta Pernahkan membayangkan menyusuri gunung selama tujuh hari tujuh malam melewati jalur pendakian baru?. 

Itulah yang dialami oleh 5 mahasiswa Mapala Haihata kampus STEI Tazkia, Sentul, Bogor.

Mereka melakukan pendakian itu dalam rangka pelantikan anggota muda menjadi laskar Haihata dengan nama Pengembaraan Tanah Osing.

Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari di Banyuwangi, Jawa Timur. Osing merupakan nama suku asli Banyuwangi. 

Selama sepuluh hari tersebut kegiatan dibagi menjadi 2. Dalam tujuh hari calon laskar Haihata ini mendaki 2 gunung sekaligus tanpa henti. Dan tiga harinya digunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan di Banyuwangi.

Dalam melakukan aksis sosial itu mereka membantu kegiatan warga dan memberikan pendidikan ilmu agama kepada siswa SD di desa Bayu, dusun Bayulor, Banyuwangi. 

Setelah itu mereka melakukan pendakian ke Gunung Pendu dengan ketinggian 2.400 mdpl.

Menariknya pendakian ini adalah pembukaan jalur pertama di gunung tersebut. Dan mereka harus survive menghadapi lebatnya hutan. Tak cukup sampai di situ, setelah mencapai puncak Pendu, perintisan jalur ini langsung dilanjutkan dengan pendakian ke gunung Suket dengan ketinggian 2.950 mdpl. Ketika turun, rombongan menuju desa Sampit, Bondowoso. 

Selama tujuh hari, tujuh malam pendakian itu mereka diguyur hujan lebat. Dengan bekal peta, golok dan survival kit yang mereka menempuh perjalanan sepanjang 18,1 kilometer.

Al Hisyam Arifandy Putra sebagai ketua pengembaraan ini mengungkapkan,“Kita benar-benar survive, tidur pun kita tidak menggunakan tenda. Hanya beratapkan flysheet. Persiapan harus matang, mulai dari manajemen waktu, transport, hingga logistik harus tepat perhitungannya, "katanya.

Dari kegiatan ini, Hisyam membenarkan bahwa, gunung ini bukanlah gunung wisata. Karena belum pernah ada pendakian sebelumnya. Hanya penduduk saja yang masuk ke gunung untuk berburu maupun mengambil jamur di ketinggian 1.200.

“Gunung ini tidak dijadikan gunung wisata, karena tingkat kesulitan sangat kompleks. Tidak terdapat mata air, terjal, curam, hingga ada jalan dimana hanya menyeberangi 1 akar besar” Ucap Hisyam yang berkuliah  di jurusan Manajemen Bisnis.

Di desa Bayu salah satu penghasil kopi ini, Hisyam berharap, pegiat alam jangan hanya mencari kesenangannya dalam pendakian. Tapi memberikan ilmu dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar pendakian juga harus dilakukan.

Penulis:

Ilham Pratama

Universitas Moestopo

Jadilah bagian dari Komunitas Campus CJ Liputan6.com dengan berbagi informasi & berita terkini melalui e-mail : campuscj6@gmail.com serta follow official Instagram @campuscj6 untuk update informasi kegiatan-kegiatan offline kami.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya