Pameran Properti BTN Catat Total Transaksi Rp 5,9 Triliun

Dalam pameran properti itu, BTN menawarkan jangka waktu kredit rumah selama 25 tahun untuk KPR non subsidi.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 19 Feb 2017, 19:48 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Pameran Properti Indonesia (Indonesia Property Expo/IPEX) 2017 yang digelar PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berhasil mencetak total transaksi penjualan atau potensi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 5,9 triliun dalam waktu 9 hari. Realisasi ini melampaui target BTN yang ditetapkan Rp 5 triliun.

Berlangsung sejak 11-19 Februari 2017, pameran properti Indonesia oleh BTN diserbu lebih dari 250 ribu pengunjung hingga posisi Minggu sore tadi (19/2/2017). Pameran akan ditutup pukul 8 malam nanti.

"Sudah lebih dari 250 ribu pengunjung datang ke pameran properti ini. Target pun terlewati dengan nilai transaksi pecah telur menembus Rp 5,9 triliun dalam 9 hari," kata Direktur Consumer Banking Bank BTN, Handayani saat menutup acara IPEX di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu sore ini.

Dia mengaku belum mengetahui jumlah persis penjualan rumah subsidi maupun non subsidi dalam pameran tersebut. Akan tetapi, Handayani bilang, apabila rata-rata rumah senilai Rp 300 juta, maka nilai transaksi Rp 5,9 triliun itu setara dengan mendekati 20 ribu unit rumah.

"Angka penjualan rumahnya belum tahu. Tapi rata-rata rumah harganya Rp 300 juta, dibagi saja (Rp 5,9 triliun)," jelas Handayani.

Dia menuturkan, tingginya antusiasme masyarakat selama pameran berlangsung lantaran promosi yang ditawarkan. Antusiasme masyarakat yang tinggi juga menjadi faktor utama pencapaian transaksi tersebut.

Selama pesta KPR BTN, calon pembeli dimanjakan dengan banjir bunga murah sebesar 4,67 persen, tetap 1 tahun untuk KPR non-subsidi, kemudian bunga 5 persen tetap untuk KPR subsidi. Masyarakat pun dapat menikmati fasilitas uang muka mulai 5 persen untuk KPR non-subsidi dan 1 persen untuk KPR subsidi.

Dalam pameran ini, bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut menawarkan jangka waktu kredit selama 25 tahun untuk KPR non-subsidi dan 20 tahun untuk KPR subsidi.

Diskon pun diberikan, diantaranya 50 persen biaya administrasi dan provisi, diskon hingga 20 persen pada premi asuransi jiwa, sistem one hour approval, hingga fasilitas KPR bundling dengan kredit kendaraan bermotor, serta furnitur untuk isi rumah.

"Sebanyak 700 proyek properti dari 212 pengembang di seluruh Indonesia dibanjiri banyak permintaan, dari potensi kredit yang berhasil dicatatkan oleh 18 kantor cabang Bank BTN mayoritas pembeli menyerbu properti di wilayah Bekasi, Tangerang dan Bogor," jelas Handayani.

Nilai permohonan KPR yang dicetak dari kantor BTN yang beroperasi di wilayah tersebut, Ia menuturkan, masing-masing lebih dari Rp 950 miliar di Bekasi, Rp 869 miliar di Tangerang, dan Rp 540 miliar di Bogor.

Dia menambahkan, pemohon KPR bersubsidi mayoritas mengambil properti di wilayah Tangerang, Bekasi, dan Cibubur. Di Ciputat, permohonan kredit melesat 3 kali lipat dari target awal atau mencapai Rp 7,3 miliar.

"Perumahan di kawasan Tangerang dan Bekasi masih menjadi favorit warga, karena akses yang semakin mudah, sehingga tidak hanya untuk dihuni tapi bisa menjadi investasi,” ujar Handayani.

Dia optimistis mampu menembus target pangsa pasarnya di bisnis KPR, yaitu sebesar 40 persen pada 2019 dari posisi saat ini sekitar 33,57 persen.

"Target kami penjualan rumah dari KPR subsidi dan non subsidi naik 30 persen di 2017 dibanding tahun lalu. Penyaluran kredit diharapkan tumbuh minimal 20 persen pada 2017 dibanding Rp 164 triliun di 2016. Sedangkan KPR rumah subsidi terserap 184 ribu unit atau naik 30 persen dari 2016," tambah Handayani.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya