Panelis Tak Bertanya Program 100 Hari Kerja Cagub DKI, Mengapa?

Enny mengakui bahwa apa yang dipaparkan masing-masing calon belum tersampaikan secara utuh.

oleh Muhammad Radityo Priyasmoro diperbarui 14 Jan 2017, 09:58 WIB
Debat Cagub DKI 2017

Liputan6.com, Jakarta - Debat cagub-cawagub DKI putaran pertama telah berlangsung pada Jumat malam, 13 Januari 2017, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Dalam debat perdana Pilkada DKI 2017 ini, para panelis tidak terlihat melontarkan langsung maupun tidak langsung pertanyaan terkait program 100 hari kerja kepada tiga pasangan cagub-cawagub DKI.

Ditanyakan hal ini, salah seorang dari empat panelis debat cagub dan cawagub DKI Jakarta, Enny Sri Hartati, mengungkapkan alasannya.

Menurut dia, pertanyaan dirumuskan tim panelis jauh lebih penting ke arah substansi Jakarta.

"Biasanya orang nanya program 100 hari, tidak penting 100 hari apa 200 hari, tetapi ini ingin menunjukkan sebenarnya mereka paham atau tidak dengan persoalan konkret," kata Enny saat ditemui usai debat di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat 13 Januari 2017 malam.

Pakar dan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini juga mengatakan, lebih mementingkan jawaban dari pertanyaan rumusan tim panelis bisa mengena ke masyarakat dan bukan sekedar adu argumen.

"Concern strategi dan program mereka ketika nanti masyarakat memberikam amanah, (jadi) bukan hanya sekadar adu argumentasi bersifat normatif," tegas Enny.

Lebih jauh Enny mengakui bahwa apa yang dipaparkan masing-masing calon belum tersampaikan secara utuh. Hal itu karena keterbatasan waktu untuk menjawab.

"Memang kita tadi mencari jawaban yang benar-benar konkret, memang belum banyak karena keterbatasan (ada) waktu," ujar Enny sebagai panelis debat cagub DKI 2017.

 

 

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya