Potensi Bisnis 5G Capai Rp 161 Kuadriliun pada 2035

Adopsi teknologi 5G dapat menghasilkan produk dan layanan hingga US$ 12 triliun atau sekira Rp 161 kuadriliun.

oleh Corry Anestia diperbarui 08 Jan 2017, 16:54 WIB
(ilustrasi)

Liputan6.com, Las Vegas - Nilai bisnis 5G dinilai sangat potensial dan menggiurkan. Menurut CEO Qualcomm, Stephen Mollenkopf, adopsi teknologi 5G dapat menghasilkan produk dan layanan hingga US$ 12 triliun atau sekira Rp 161 kuadriliun.

Mollenkopf sebelumnya menyinggung bagaimana teknologi 5G dapat memberikan keuntungan bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat. Maka itu, ia menilai bahwa 5G menjadi kunci masa depan.

Menurut riset The 5G Economy Study, sebagaimana dikutip Mollenkopf, implementasi teknologi 5G akan memengaruhi perekenomian manusia dan baru akan terealisasikan di seluruh dunia pada 2035.

"5G akan berdampak terhadap industri yang lebih luas dan dapat menghasilkan produk dan layanan dengan nilai bisnis mencapai US$ 12 triliun," ungkapnya dalam sesi 5G Keynote, Jumat (6/1/2017) waktu setempat, yang turut dihadiri Tekno Liputan6.com, di CES 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat.

Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa ekosistem 5G mulai dari OEM, pengembang aplikasi, operator, hingga konsumen dapat menciptakan pendapatan sebesar US$ 3,5 triliun terhadap total pendapatan yang bakal dihasilkan pada 2035.

Teknologi 5G dianggap menjadi kunci keterhubungan perangkat di seluruh dunia dan tak terbatas pada satu jenis perangkat saja. Teknologi ini akan berperan penting terhadap realisasi Internet of Things (IoT).

(Cas/Why)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya