MPR 'Kawinkan' Sosialisasi 4 Pilar dengan Adat dan Budaya Lokal

Menurut dia, saat zaman dahulu, seperti pada masa Wali Songo, para wali juga menggunakan pentas wayang untuk mensyiarkan agama Islam.

oleh Liputan6 diperbarui 18 Des 2016, 17:11 WIB
Wakil Ketua Komisi II DPR Lukman Edy (kanan) menjadi pembicara pada dialog Pilar Negara yang bertema "Urgensi Pembentukan Lembaga Pengkajian" di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR, Jakarta, Kamis (12/2). (Liputan6.com/Andrian M Tunay)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu metode yang digunakan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk menyosialisasikan Empat Pilar adalah lewat pementasan seni yang disesuaikan dengan daerah tujuan sosialisasi.

"Bila di tempat komunitas Jawa biasanya membikin acara pertunjukan wayang kulit. Kemudian kalau di Jawa Barat mengadakan pertunjukan wayang golek," kata anggota MPR dari Fraksi PKB, Lukman Edy, dalam sosialisasi Empat Pilar di Pekanbaru, Riau, Minggu (18/12/2016).

Contoh lainnya, menurutnya, di Sumatera. Pentas seni yang cocok antara lain berhubungan dengan masyarakat Minang, Melayu atau Batak.

"Salah satunya yang cocok adalah Kesenian Irama Minang (KIM)," ujar Edy dalam sosialisasi di hadapan ratusan warga Kelurahan Tampan itu, seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, saat zaman dahulu, seperti pada masa Wali Songo, para wali juga menggunakan pentas wayang untuk mensyiarkan agama Islam.

"Padahal pada masa itu ada anggapan ada beberapa hal dalam wayang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Meski demikian, oleh Wali Songo beberapa hal yang tak sesuai dengan nilai Islam itu diluruskan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam," ungkap Edy.

Sementara anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Idris Laena, menuturkan sosialisasi lewat pentas seni dan budaya bisa dilanjutkan di daerah-daerah lainnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya