Upaya Sri Pangkas DBD dengan Bendera

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Duren Sawit tinggi di Jakarta Timur. Sri pun berupaya menekannya dengan libatkan warga.

oleh Benedikta Desideria diperbarui 29 Nov 2016, 08:30 WIB

Liputan6.com, Jakarta “Ini Mbak yang menghubungi saya ya?,” tutur wanita bertubuh kecil memecah keheningan sore di Puskesmas Duren Sawit lantai tiga beberapa hari lalu. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya saya bisa bertemu dengan tenaga kesehatan lingkungan bernama Sri Murwati ini.

“Maaf Mbak tadi ada pelatihan komposting di kelurahan dulu,” tuturnya sambil mengajak ke ruang pertemuan puskesmas. 

Agenda sehari-hari wanita yang akrab disapa Sri ini memang padat. Sebagai petugas kesehatan lingkungan, ia aktif mengurus sanitasi tempat umum hingga penyehatan tempat berjualan makanan dan minuman. Selain itu, ia fokus mengupayakan agar warga aktif mencegah kehadiran jentik nyamuk di sekitar lingkungan rumah.

Sri Muwarti

Bukan tanpa sebab, Sri mengupayakan hal tersebut. Angka Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur termasuk tinggi. “Dari tahun ke tahun, peringkat angka DBD di Kecamatan Duren Sawit itu ya di nomor dua, tiga, empat, lima di Jakarta Timur. Misalnya pada 2013, terdapat 625 kasus DBD,” kata wanita yang telah mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan selama 23 tahun ini.

Kehadiran jumantik alias juru pemantau jentik, kata dia, kurang menurunkan angka DBD. Untuk itu, Sri mencoba melakukan sebuah inovasi sejak 2013. Ia memanfaatkan bendera dalam program bertajuk 'Inovasi Cakupan Angka Bebas Jentik dengan Menggunakan Bendera Pemberantasan Sarang Nyamuk'.

 

Penggunaan bendera

Jadi, bila warga sebuah rumah sudah melakukan pemantauan jentik nyamuk di rumah, pada Kamis sore atau Jumat pagi mereka harus memasang bendera khusus. Hal ini dilakukan agar saat jumantik melakukan pemantauan, mereka tahu warga mana saja yang sudah dan belum terpantau jentik nyamuk di rumahnya.

Menurut Sri, program ini dilakukan di RW 08 Pondok Bambu. Terdapat 11 RT di wilayah ini sehingga ada bendera dengan 11 warna berbeda yang dipasang di sekitar 500-an rumah.

"Saya memang baru melakukan inovasi di RW ini. Kenapa? Para jumantik yang juga kader-kader kesehatan di RW ini begitu semangat dalam menekan DBD, sehingga mereka bisa diajak bekerjasama menjalankan program ini," tutur wanita lulusan Universitas Respati Indonesia Jakarta ini.

Jentik di tempat tak terduga

Jentik di tempat tak terduga

Awal mula melaksanakan progam, masih banyak warga yang tidak mengetahui titik-titik keberadaan jentik berada. Banyak warga yang sudah memasang bendera, namun saat jumantik mengecek rumah masih terdapat jentik nyamuk.

Salah satunya di rumah seorang Kepala RT. Sri menuturkan, ibu RT sudah memasang bendera di rumahnya. Namun setelah jumantik mengecek ke sana, ditemukan jentik di vas bunga.

"Ibu RT itu kaget 'kok bisa ya ada jentik kan sudah saya pasang busa'. Lalu, saya katakan, sebelum dipasang busa, sudah ada telurnya lalu berubah jadi jentik," kenang Sri.

Penggunaan bendera

Di rumah lainnya juga sudah memasang bendera. Namun saat jumantik mengecek ditemukan jentik di tampungan air bagian bawah dispenser.

"Dari kejadian-kejadian ini kami jadi tahu, bahwa masyarakat belum sepenuhnya tahu kontainer mana saja yang berpeluang menjadi tempat hidup jentik nyamuk," kata ibu tiga anak ini.

Edukasi kepada pemilik rumah pun terus menerus dilakukan. Termasuk memberi tahu tempat atau wadah seperti apa yang bisa menjadi tempat hidup jentik nyamuk. Mulai dari vas bunga, dispenser, hingga bekas kaleng cat terisi air.

Program berjalan, angka DBD nol

Program berjalan, angka DBD nol

Upaya melibatkan warga lebih aktif memantau jentik nyamuk menggunakan bendera berdampak positif. Pada 2014, angka DBD di RW 08 Pondok Bambu menurun drastis hingga angka nol alias tidak ada.

"Pas sekali di tahun selanjutnya juga tidak ada kasus DBD. Alhamdulillah turun," tutur Sri senang.

Pada 2011, data pasien DBD di RW 08 Pondok Bambu ada empat orang. Lalu, 2013 dan 2014 masing-masing tahun ada tiga orang.

Dalam menekan angka DBD, memang tak bisa hanya mengandalkan jumantik. Peran serta warga salah satunya dalam memantau jentik nyamuk berperan paling besar menekan angka DBD di suatu wilayah.

Raih prestasi, saat berduka

Raih prestasi, saat berduka

Progam 'Inovasi Cakupan Angka Bebas Jentik dengan Menggunakan Bendera Pemberantasan Sarang Nyamuk' berhasil membawa Sri menjadi salah satu finalis tenaga kesehatan teladan dari 216 orang terpilih oleh Kementerian Kesehatan. Namun, duka melandanya saat menjalani proses seleksi.

"Saat itu anak saya sakit, ia terkena leukemia," tutur Sri lirih.

Pada saat mempersiapkan proses seleksi tenaga kesehatan teladan, putra ketiganya, Firman Rizky Subahar sedang berjuang melawan kanker. Sri pun dengan berat hati harus rela meninggalkan Firman beberapa waktu. Meski begitu Firman tidak pernah merajuk ataupun merengek pada ibunya. Ia sangat tegar.

Nasihat-nasihat kecil turut diberikan Sri pada Firman agar ia tabah menjalani penyakitnya. Sri juga selalu memberikan kekuatan bila Firman melihat teman-teman seusianya yang satu ruangan rawat inap meninggal di Rumah Sakit Dharmais.

"Saya bilang ke dia, jangan takut kematian karena semua akan kembali ke sana. Kalau memang Allah memang mau ambil, ya diambil'," ucap Sri seraya mata berkaca-kaca.

Begitulah Sri, dengan ketabahannya dia selalu berusaha untuk membuat putranya bahagia dan bangga. Dan di tengah usahanya mengabdi untuk masyarakat dalam menuntaskan DBD, Tuhan berkehendak lain. Tepatnya 10 Juli 2016, buah hati kesayangannya meninggal dunia. Rasa sedih begitu dalam dirasakan wanita kelahiran Lampung, 16 Maret 1965 ini.

"Semua ini sudah jalannya. Ini yang membuat saya tegar," tuturnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya