Journal: Sniper, Sang Pemburu Andal Tanpa Jejak

Sniper punya peran penting dalam operasi militer. Mereka merupakan anggota istimewa yang punya tugas berat.

oleh FX. Richo PramonoAudrey SantosoMufti Sholih diperbarui 22 Nov 2016, 19:30 WIB

Liputan6.com, Jakarta - I Nengah Tamat tak pernah menyadari bahwa ia memiliki bakat menjadi seorang penembak runduk (sniper). Namun berpuluh-puluh tahun kemudian, lelaki berpangkat kapten infanteri yang berdinas di Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat (AD) itu dikenal sebagai salah satu penembak runduk terbaik di Angkatan Darat. Kapten Tamat, begitu biasa disapa, merupakan pemegang rekor menembak dengan susunan sasaran tembak terjauh dari Museum Rekor Indonesia.

Rekor tersebut diperolehnya setelah berhasil menembak tepat 11 target dalam jarak 600 meter dengan sebuah peluru. “Kalau saya menembak 10 kali, peluang tidak kena bisa dua kali,” ucap Kapten Tamat kepada Liputan6.com di Lapangan Tembak, Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.
 
Keahlian yang diperoleh Kapten Tamat tidak didapatnya begitu saja. Sejak bergabung dengan Kopassus pada 1996, Nengah Tamat sudah digembleng menjadi penembak runduk. Sebab, dia lolos dalam seleksi tes keahlian sebagai penembak runduk. Pelajaran demi pelajaran pun dia peroleh. Tes demi tes juga sudah dilewati. Kini, 20 tahun sudah Nengah Tamat berdinas sebagai penembak runduk di korps yang bermoto Berani, Benar, dan Berhasil ini.

Kapten Nengah Tamat mungkin belum sebanding dengan almarhum Tatang Koswara. Tatang dikenal sebagai penembak runduk paling hebat yang lahir dari TNI. Namun, Tatang maupun Tamat sama-sama lahir dari kesatuan infanteri. Kepala Dinas Penerangan AD Brigadir Jenderal Sabrar Fadhillah mengatakan, TNI memang memiliki banyak penembak runduk. Mereka lahir dari kurikulum pendidikan militer milik TNI.

Kapten Tamat sedang membidik sasaran tembak (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Menurut Sabrar, kemampuan menembak jitu tak dimiliki sembarang anggota TNI. “Sniper itu merupakan keahlian atau kemampuan,” kata Sabrar kepada Liputan6.com, Jumat (11/4/2016). Ia menyebut harus ada seleksi dan pelatihan untuk menghasilkan seorang sniper. Seleksi dimungkinkan untuk mencari seberapa kuat ketahanan fisik dan mental calon penembak runduk. Sementara pelatihan ditujukan untuk mengasah kemampuan dan pengetahuan menembak.

Sabrar menjelaskan, seleksi dan pelatihan ini merupakan inti dalam mendidik seorang calon sniper. Karena sniper akan punya tugas berat dalam pengejaran musuh saat diturunkan dalam sebuah operasi militer. Saat menjalankan tugas tersebut, seorang sniper berpisah dari induk pasukan dalam mengejar target. Tugas ini kadangkala mengharuskan seorang sniper bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain untuk melumpuhkan target. “Dia itu bisa berbulan-bulan lepas dari induk pasukan,” kata Sabrar.

 

Teropong salah satu senjata tembak runduk milik Kopassus (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

 

Mufti Makarim, pengamat militer sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Defense Security and Peace Studies, menuturkan tugas lepas dari pasukan saat mencari musuh merupakan satu di antara tugas berat yang harus dijalankan seorang penembak runduk. Tugas berat lain, kata Mufti, juga diberikan kepada sniper. Di antaranya adalah mengidentifikasi bobot serangan lawan dan melumpuhkan musuh potensial.

Mufti mengatakan dua tugas tersebut tampak jelas pada Perang Dunia I dan II. Dalam perang tersebut, peran sniper amat vital. Mereka kerapkali menjadi penghancur kekuatan musuh sekaligus menjadi pembunuh misterius. Sniper menjadi hantu yang ditakuti sekaligus menjadi musuh yang paling dicari. “Seperti saat Uni Soviet menggentarkan Jerman dengan nama sniper. Jerman mengiming-imingi sniper-nya untuk memburu sniper Soviet,” ujar Mufti.

Menyendiri dalam Tekanan

Perang Dunia I dan II telah menempatkan sniper sebagai salah satu bagian penting dalam kedinasan militer. Sniper diposisikan sebagai pembunuh atau pelumpuh target. Tugas ini membuat sniper kerap dilibatkan dalam setiap operasi. Tak terkecuali dalam operasi yang dilakukan militer Indonesia. Menurut Mufti, ada tiga jenis tipe operasi yang turut melibatkan sniper.

Tipe pertama, kata dia, sebagai pendukung operasi. Dalam operasi ini, sniper dilibatkan dalam pasukan infanteri atau kavaleri. Biasanya, sniper ini akan bertugas menyasar musuh-musuh yang berada dalam jarak yang jauh serta tak terlihat. Hal ini seperti yang dilakukan sniper tentara Amerika Serikat di Mosul, Irak. “Sniper melumpuhkan musuh potensial yang undercover,” kata Mufti.

Tipe kedua, sniper yang diterjunkan dalam operasi mandiri. Umumnya, operasi tipe ini dilakukan untuk melindungi objek vital atau mengidentifikasi kekuatan musuh. Dalam operasi tipe ini, sniper bertugas di puncak gedung atau tempat tinggi. Ketiga, tipe operasi perang sesama sniper. Meski berbeda tipe, ketiga operasi ini bertumpu pada kekuatan dan kemampuan bertahan diri seorang sniper.

 

Seorang sniper berlatih menembak di Mako Kopassus (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Soal kemampuan dan kekuatan ini diakui Brigjen Sabrar Fadhillah. Sabrar menyebut kemampuan bertahan diri atau survival menjadi syarat mutlak yang sebenarnya harus dimiliki seorang penembak runduk. Kemampuan survival ini meliputi kematangan psikologis dan kecerdasan intelegensi. Sebab, sniper harus mengambil sebuah keputusan cepat dan tepat dalam kondisi tertekan. “Kalau dia tembak dengan satu butir, bisa menentukan hasil operasi,” kata Sabrar.

Itu sebabnya, Sabrar menjelaskan, TNI menerapkan uji kompetensi dalam menjaring calon penembak runduknya. Uji dilakukan terhadap kondisi psikologis dan kemampuan menembak seorang calon sniper. Meski dua ujian ini bukan percobaan yang rumit buat seorang anggota TNI, tapi cuma sedikit yang bisa lolos.
 
Kapten Nengah Tamat mengamini pernyataan Sabrar dan Mufti. Ia pun masih ingat tatkala dirinya menjalani seleksi sebagai sniper. Tamat menerangkan, dirinya diharuskan menjalani psikotes. Selepas itu, dia menjalani tes kemampuan menembak.

Peluru-peluru ini digunakan sniper untuk berlatih di Mako Kopassus (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Kapten Tamat mengungkapkan, dia menjalani tes menembak itu selama hampir satu bulan. Setiap hari, Tamat diuji kemampuan untuk mengukur kesangkilan dan kemangkusannya dalam menggunakan peluru. Ini akan menjadi patokan buat kelulusannya. Sebab, tes tersebut akan menghitung berapa banyak peluru yang dihabiskan.

“Mana yang psikologinya bagus, mana yang hasil menembaknya bagus. Itu yang kemudian masuk ke spesialisasi sniper,” ujar Kapten Tamat.

Anggota ‘Istimewa’ TNI

Seleksi ketat dan latihan berat menjadi “hidangan” sehari-hari yang harus dicicipi setiap sniper. Latihan yang dijalani seorang sniper berbeda dari anggota TNI lainnya. Meski sama-sama akan diterjunkan dalam operasi, sniper punya porsi latihan khusus. Seorang penembak runduk harus terus mengasah kemampuan menembak. Latihan ini mensyaratkan peralatan khusus yang harus mereka gunakan. Akibatnya, pelatihan seorang sniper membutuhkan anggaran yang tak sedikit.

Brigjen Sabrar Fadhillah mengakui anggaran yang dialokasikan untuk sniper TNI Angkatan Darat memang besar. Ia tak ingat betul berapa anggaran yang digelontorkan untuk mendidik satu orang sniper. Anggaran ini, kata Sabrar, dialokasikan tak hanya untuk latihan saja, tetapi untuk pemeliharaan para sniper.
 
“Karena kemampuan dia harus dilatih, senjatanya khusus. Setelah dilatih, harus dipelihara. Kemampuannya juga kan harus berlatih,” ucap Sabrar.

Senjata-senjata yang digunakan sniper Kopassus saat berlatih (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Sebagai informasi, harga senapan runduk SPR 2 buatan PT Pindad dibanderol Rp 200 juta untuk sepucuk pada 2015. Sementara, sniper TNI salah satunya menggunakan senjata AX, yang notabene buatan Inggris. Ini memungkinkan harga senjata AX yang mereka gunakan jauh lebih mahal dibanding dengan senapan yang dibuat PT Pindad.

Mahalnya anggaran untuk sniper ini diakui Mufti Makarim sebagai hal yang wajar. Menurut Mufti, anggaran untuk seorang sniper memang seharusnya lebih besar dibanding dengan anggaran untuk anggota TNI lain. Sebab, seorang sniper seharusnya berlatih menembak 300 peluru per hari. Apalagi, senjata yang mereka gunakan pun merupakan senjata khusus
 
“Kebutuhan seorang anggota infanteri yang berada di garis depan dengan senjata SS jelas berbeda dengan kebutuhan sniper,” ucap Mufti membandingkan.
 
Tak hanya anggaran yang menjadikan sniper sebagai anggota “istimewa” TNI. Tugas yang dibebankan kepada mereka, juga terbilang berat. Umumnya, sniper akan diberi tugas membunuh atau melumpuhkan target utama. Ini menjadi konsekuensi dari besar anggaran yang dialokasikan dengan tugas yang diemban.

Dua anggota Kopassus berlatih (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Kapten Nengah Tamat membenarkan ihwal keistimewaan dan tugas berat ini. Dia berujar membunuh merupakan salah satu ajaran dalam tugas kedinasan militer mereka. Untuk itu, mereka dibekali pembinaan mental yang istimewa. Pembinaan ini ditujukan untuk mengatasi kecemasan dan belas kasihan. Musababnya, mereka ditugaskan membunuh untuk menjaga keamanan dan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita ini jadi sniper yang kita bunuh siapa? Kita perlu membunuh demi kepentingan bangsa dan negara, ya harus bunuh. Karena kita melakukan sesuatu untuk bangsa dan negara kita,” ucap Kapten Tamat menegaskan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya