Begini Solusi Gubernur Jatim untuk Bikin Biaya Logistik Murah

Mahalnya ongkos logistik salah satunya karena kapal yang pulang kerap kosong sehingga membuat biaya pengiriman naik.

oleh Septian Deny diperbarui 09 Nov 2016, 16:27 WIB
(Foto: Antara)

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo menyatakan, biaya pengiriman barang (logistik) menggunakan moda transportasi laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya ke wilayah Timur Indonesia jauh lebih mahal ketimbang menuju Singapura. Kondisi ini mendorong harga bahan pangan, komoditas, maupun produk jadi lebih mahal.

"Biaya kontainer 20 feet dengan jalur laut dari Tanjung Perak ke Singapura cuma Rp 2 juta, tapi ke Makassar bisa mencapai Rp 11 juta, bahkan ke Jayapura sampai Rp 16,3 juta. Sangat mahal kan," jelasnya di Jakarta, Rabu (9/11/2016).

Menurut Soekarwo, mahalnya ongkos logistik ini karena kapal yang pulang dari Makasar ataupun Jayapura dan Merauke ke Tanjung Perak kosong. "Berangkat bawa barang 100 persen, baliknya kosong atau cuma mengangkut 20 persen," ujar pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu.

Akibatnya, dia mencontohkan, harga telur ayam ras di Papua dijual mencapai Rp 19 ribu-Rp 21 ribu per kilogram (kg). Kemudian beras premium di Maluku Utara sampai Rp 32 ribu per kg.

Sebab itu, menurut dia, solusi untuk menurunkan harga bukan di kapal perintis, namun agregator yang dapat mengumpulkan barang-barang di setiap daerah. Sebagai contoh, Pemprov Jatim membentuk Kantor Perwakilan Dagang (KPD) Jatim sebagai agregator di 26 provinsi.      

"Kita hire, dibayar, setelah untung kita lepas. Jadi banyak barang-barang Jatim di Kupang masuk ke Merauke, lalu ke Darwin. Roti Vanuatu di sana, itu produk Jember. Nah pulangnya, kapal rakyat mengangkut ikan dari Maluku atau rumput laut," dia menuturkan.

Strategi lainnya untuk menekan disparitas harga, kata dia adalah dengan memperbanyak pelabuhan. Saat ini beberapa pelabuhan sudah berdiri di Jawa Timur antara lain di Tuban, Probolinggo yang 30 persen lebih efisien dari Tanjung Perak.

Bahkan dalam sebulan dikatakan bisa masuk 52 kapal. Termasuk penambahan dua bandara domestik di 2017.

"Kita juga dirikan kantor baru Bank Jatim memberikan kredit impor kepada KPD di daerah itu. Kalau beli barang dari Jatim, diberikan kredit. Kita buka Jatim Mart di Singapura untuk memasarkan produk UMKM di sana," tutur dia.

Setiap tahun, dia mengaku, rutin menggelar pameran dagang sehingga terbentuk jalinan pelabuhan di Jatim dan pelabuhan lain sehingga bisa dihitung rutinitas pengiriman dan pengambilan barang karena terjadwal.

"Setelah ada KPD, Kabupaten/Kota, Provinsi yang dagang dengan kami mendapatkan nilai tambah, barang jadi lebih murah. Jadi solusinya ada di agregator pengumpul barang di setiap daerah," dia menerangkan. (Fik/Nrm)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya