Keluarga Pasien Minta Suntik Mati, Gubernur Kaltim Turun Tangan

Sebelumnya, putra pasien memberanikan diri menemui langsung orang nomor satu di Kaltim, menuntut keadilan terhadap kondisi kesehatan ibunya.

oleh Abelda RN diperbarui 02 Nov 2016, 08:32 WIB
Pasien penderita kelumpuhan, Humaida dan keluarga di Kabupaten Paser, Kaltim. (Liputan6.com/Abelda Gunawan)

Liputan6.com, Balikpapan - Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak akhirnya turun tangan dalam penanganan Humaida, pasien koma selama hampir enam tahun. Humaida diagnosis mengidap penyakit vegetative state. Penyakit ini dialami pasien yang mengalami kerusakan jaringan otak kronik berujung kelumpuhan seluruh fungsi organ tubuhnya.

"Pak Awang memberikan memo untuk disampaikan langsung pada Direktur Rumah Sakit AW Sjahranie di Samarinda," ucap Ahmad Januar, putra pasien koma tersebut saat dihubungi Liputan6.com, Selasa, 1 November 2016.

Sebelumnya, Januar memang memberanikan diri menemui langsung orang nomor satu di Kaltim guna menuntut keadilan kondisi kesehatan ibunya yang sudah mati suri selama lima tahun dan enam bulan ini. Berbekal tekad, dia menyerahkan surat permohonan melakukan audiensi pada salah seorang staf Pemprov Kaltim.

"Gubernur Kaltim bilang untuk menunggu sebentar dan berselang beberapa menit kemudian bersedia menemui saya secara langsung," ia memaparkan.

Momentum tersebut dimanfaatkan Januar guna menyampaikan kondisi terkini Humaida yang tergolek tidak berdaya di RSUD Panglima Sebaya, Kabupaten Paser. Praktis selama ini tidak ada satu pun penanganan medis diberikan pada Humaida dari pihak rumah sakit.

"Hanya bapak saya yang setiap hari memberikan perawatan seperti menyuapi makan bubur lewat selang setiap tiga jam sekali. Termasuk memandikan dan membuang kotoran ibu," ujar dia.

Saat itu, Januar mengungkapkan Awang Faroek meminta pasien segera dipindahkan ke Rumah Sakit AW Sjahranie guna memperoleh penanganan intensif. Pemprov Kaltim akan menjamin seluruh kebutuhan biaya pengobatan pasien hingga ambulans dari Paser, Samarinda.

"Semua akan menjamin, jaminan Pemprov Kaltim," tutur dia.

Namun demikian, Januar tetap merisaukan permasalahan kelangsungan ketiga adik-adiknya yang masih duduk di jenjang pendidikan dasar. Selama ini, hanya ayahnya yang merawat ketiga adiknya beserta ibunya di Rumah Sakit Paser.

"Nanti siapa yang menjaga adik-adik di Paser. Bapak tentunya akan ikut ibu ke Samarinda," ia mengeluh.

Januar berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser, Kaltim, berinisiatif turut berperan dalam membantu perawatan keluarga nanti selama proses pengobatan. Menurut dia, pemkab setidaknya mengalokasikan anggaran guna memastikan kelangsungan pendidikan berikut perawatan ketiga adiknya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya