Menanamkan Revolusi Mental Sejak Dini di Festival Bocah Cilik

Festival Bocah Cilik 2016 memiliki rangkaian kegiatan yang edukatif, menarik dan tema besar Revolusi Mental mulai sejak dini.

oleh Liputan6 diperbarui 31 Okt 2016, 18:36 WIB
Festival Bocah Cilik 2016 memiliki rangkaian kegiatan yang edukatif, menarik dan tema besar Revolusi Mental mulai sejak dini.

Liputan6.com, Jakarta Dalam rangka ulang tahunnya yang keempat, Komunitas Jendela Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia dan mitra terkait lainnya mempersembahkan Festival Bocah Cilik yang diadakan pada hari Minggu (30/10) bertempat di Bumi Perkemahan dan Taman Wisata Cibubur, Taman Lalu Lintas – Taman Daihatsu.

Festival Bocah Cilik hadir sebagai wadah mengenalkan kembali anak dengan permainan tradisional yang efektif untuk mempertemukan anak-anak sehingga melatih kemampuan interaksi sosial. 

Dibuka oleh penampilan Polisi Cilik binaan Daihatsu yang sangat mahir dalam hal baris berbaris semakin menambah semangat, antusiasme para peserta serta keseruan di lokasi acara. Para peserta berasal dari komunitas baca perpustakaan di Jakarta, komunitas anak, para pelajar, dan masyarakat umum dengan rata-rata umur lima hingga dua belas tahun.

Festival ini terdiri dari rangkaian kegiatan yang edukatif, menarik dan tema besar Revolusi Mental mulai sejak dini. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan Talk Show : Revolusi Mental yang menghadirkan narasumber Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK, Dr Haswan Yunaz, MM, Msi, Kak Taufan dari Komunitas Jendela serta Kang Umam dari Kompas.

Dr Haswan Yunaz menyampaikan Gerakan Nasional Revolusi Mental berawal dengan keinginan berubah, perubahan cara berpikir, cara bersikap, cara berperilaku menjadi pribadi dengan ciri berintegritas tinggi, etos kerja yang baik, dan gotong royong.

“Ciri dari mereka yang berevolusi mental itu, pertama, dia memiliki integritas yang tinggi, dapat dipercaya, jujur, memiliki rasa hormat yang tinggi serta disenangi oleh teman-temannya. Yang kedua adalah etos kerja yang baik. Maksudnya adalah semangat belajarnya tinggi dan pantang menyerah. Ciri yang terakhir adalah mampu bergotong royong, bekerjasama untuk kebaikan bersama pula,” tambahnya.

Di sela-sela talk show, Haswan menanyakan kepada adik-adik peserta yang berumur 5 hingga 12 tahun ini tentang ingin menjadi apa mereka di masa yang akan datang. “Siapa yang mau jadi pemimpin di masa depan? Ingin jadi presiden? Mau jadi menteri? Mau jadi insinyur? Mau jadi dokter? Mau jadi pengusaha?,” tanya Haswan.

Sontak mereka menjawab dengan penuh semangat, “Saya, saya, saya.” Haswan kembali melanjutkan bahwa semua yang mereka cita-citakan itu harus diwujudkan, siapa yang bermimpi dan berani bermimpi, dia pasti bisa mengerjakan dan mencapainya.

“Siapa yang bermimpi, berarti itu satu petunjuk bahwa dia bisa mencapai mimpinya, maka dari itu adik-adik harus bermimpi setinggi langit,” tambahnya.Menurutnya, inti dari revolusi mental itu harus ada perubahan dalam diri seseorang.

“Kita harus menjadi agen perubahan. Berubah dari pasif menjadi aktif, dari mengeluh menjadi pemberi solusi. Dari malu-malu menjadi berani, dari malas menjadi rajin, dari tidak mau belajar menjadi rajin belajar, dari tidak berprestasi menjadi berprestasi. Kedepannya hari ke hari hidup harus menjadi lebih baik,” paparnya.

Kak Taufan dari Komunitas Jendela melanjutkan bahwa Revolusi Mental mudah untuk dilakukan dan dapat dimulai dari membaca buku “Dengan baca buku, kita akan banyak ilmu, dengan banyak ilmu kita bisa menilai untuk merubah diri kita, keluarga kita hingga bangsa kita menjadi lebih baik lagi. Kita harus berbuat apapun yang baik untuk sesama,” tambahnya.

Kang Umam menyampaikan materi tentang Revolusi Mental ini dengan cara yang unik melalui permainan hompimpa dan lagu ampar-ampar pisang.

“Hompimpa dan ampar-ampar pisang berbicara mengenai hubungan batin dengan Tuhan dan orangtua. Harus ada komunikasi yang baik dengan Tuhan dan tentuya dengan orangtua, karena peran orangtua sangat berdampak pada pembentukan mental anak-anak. Umur anak-anak adalah umur bermain. Bermain tapi tak main-main. Bermain untuk membentuk skill dan karakter yang baik.” ujarnya

Harapan dari ketiga narasumber adalah anak-anak Indonesia ini tumbuh menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi nilai revolusi mental yaitu integritas, kerja keras dan gotong royong dan menjadi generasi yang berjuang menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.

Anak-anak selama acara hingga selesai diajak untuk tidak nyampah atau membuang sampah sembarangan, karena membuang sampah pada tempatnya merupakan praktik-praktik dari semangat revolusi mental. Pribadi yang revolusi mental harus memahami dan menghargai hak dan kewajiban untuk menjaga kebersihan dan tertib berlalu lintas. Jadi kalo dia menyebrang di tempat penyeberangan dan kalo ada yang butuh bimbingan menyeberang siap membantu. Itulah revolusi mental.

Selain talk show interaktif mengenai revolusi mental. Festival Bocah Cilik ini juga mempunyai acara-acara yang tidak kalah serunya, seperti Dolanan Tradisional, Lomba Mewarnai, Lomba Fashion Show, Lomba Puzzle, Mendongeng, Workshop Layang-layang, Workshop Membatik. Tak ketinggalan juga Pameran Foto Jendela serta Daur Ulang Sampah.

(Adv)

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya