Mengapa Solo Tolak E-Gamelan?

Pemkot Solo hadirkan gamelan di tiap kelurahan.

oleh Fajar Abrori diperbarui 26 Okt 2016, 23:41 WIB
Kamu beneran cinta negara kamu Indonesia? Bisa memainkan gamelan seperti bule-bule ini? Kalau tidak, kamu harus malu!

Liputan6.com, Solo - Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, menolak gamelan elektronik (e-gamelan) yang merupakan produk inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Jateng.

Penolakan tersebut disampaikan Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo di Solo, Rabu, setelah mengetahui produk inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah yang membuat e-gamelan.

Konsep e-gamelan sendiri digunakan untuk mempermudah mempelajari alat musik khas Jawa itu dengan media tablet ataupun komputer jinjing.

"Saya pribadi sepakat dengan kemajuan teknologi yang ada, tetapi kalau itu (e-gamelan) saya rasa sudah kebablasan. Ngajari nggamel kok pakai laptop, nggak pas," ujar dia.

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Kota Solo, wali kota ang akrab dipanggil Rudy itu paham betul bagaimana pakem sebuah gamelan mulai dari pembuatan hingga cara menabuh dengan segala tata karma di dalamnya.

Ia tidak setuju jika pakem yang dinilai tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan adiluhung tersebut rusak karena teknologi. "Soal budaya tidak boleh diinovasi, sesepuh kita dulu membuat gamelan itu harus dengan puasa. Lha kok sekarang cuma dibegitukan," kata dia.

Rudy optimistis kebudayaan Kota Solo tidak pudar karena teknologi yang semakin berkembang. Kota Solo terus menambah jumlah perangkat gamelan yang didistribusikan di setiap kecamatan dan kelurahan.

Pada 2014, Pemkot menganggarkan lebih dari Rp 1 miliar untuk membeli tiga set gamelan, setahun berikutnya Rp2,69 miliar keluar dari APBD untuk keperluan yang sama. Tahun ini APBD kota Solo juga mengalokasikan Rp374 juta untuk melestarikan kebudayaan jawa tersebut.

Program gamelan di setiap kelurahan diharapkan dapat dijadikan sebagai motivasi masyarakat untuk berlatih kesenian dan kebudayaan. Tidak hanya itu adanya gamelan secara fisik itu diharapkan mampu menjadi salah satu bukti keberadaan seni tradisional khas Solo.

"Ya ke depan diusahakan juga dapat dijadikan sebagai satu destinasi wisata kampung. Nanti diselaraskan dengan agenda kesenian setiap kelurahan yang juga rutin diadakan setiap tahun," kata Rudy.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya