Potret Menembus Batas: Surga di Selatan Pulau Timor

Kawasan Taman Wisata Menipo, Nusa Tenggara Timur, seperti daratan serupa pulau.

oleh Liputan6 diperbarui 03 Okt 2016, 04:34 WIB
Kawasan Taman Wisata Menipo, Nusa Tenggara Timur, seperti daratan serupa pulau.

Liputan6.com, Kupang - Rusa Timor atau cervus timorensis betul-betul merasakan kebebasannya. Hidup dimanja alam, di rantai makanan yang terjaga. Rusa Timor merupakan salah satu satwa yang terjaga di habitatnya. Hewan endemik yang menyandang nama asalnya timorensis.

Sementara buaya menjadi predator puncak di kawasan itu. Kisahnya tak bisa dipisahkan dari cerita serangan buaya terhadap manusia. Total 38 orang tewas diterkam buaya dalam lima tahun terakhir.

Dugaan meledaknya populasi buaya membuat tim reaksi cepat Wild Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Nusa Alam Tenggara Timur bergerak. Pelatihan dari ahli yang didatangkan langsung dari Northern Territory Australia rupanya memberi bekal yang cukup kepada WRU Unit Penanganan Satwa Liar.

Kali ini tim lebih percaya diri menangkap buaya untuk keamanan sekaligus alasan konservasi. Misinya, melindungi manusia sekaligus menyelamatkan buaya.

Kawasan Taman Wisata Menipo, Nusa Tenggara Timur, seperti daratan serupa pulau. Air pasang menjadikan sebagian daratan tergenang dan terlihat seperti pulau yang terpisah dari daratan utamanya, Pulau Timor. Beragam kekayaan hayati terkandung ada di dalamnya. Termasuk hutan bakau, habitat utama buaya muara atau crocodylus porosus.

Cagar satwa seluas 2.449 hektare itu masih terjaga berkat kesadaran warganya. Salah satu buktinya, pantai pasir putih di tempat itu yang dipilih penyu betina dewasa sebagai tempat bertelur.

Penyu memang menyukai tempat berpasir yang sepi dan lepas dari gangguan manusia maupun sumber bising yang lain. Bahkan penyu menghindari lokasi yang banyak cahaya ketika bertelur.

Sebanyak 150 ekoran penyu terlahir sebagai penyambung generasi saat itu. Namun data statistik menyebut hanya ada 1 hingga 5 individu yang berhasil bertahan hingga usia dewasa.

Sementara, meski populasi buaya kali ini dianggap mulai membahayakan, sesungguhnya ini adalah sebuah tantangan. Caranya, menangkap dan memindahkan buaya, membuat pagar air atau membuat zona eksklusif buaya hingga membangun penangkaran. Akhirnya, melahirkan ekowisata buaya. Tantangan berubah menjadi menjadi peluang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya