Cerita Warga Rawajati Korban Bentrok Saat Penggusuran

Mismanto pulang dari rumah sakit Jumat 2 September 2016 pagi setelah terlibat bentrok saat penggusuran Rawajati.

oleh Muslim AR diperbarui 04 Sep 2016, 09:35 WIB
Tulisan penolakan masih terlihat diantara perabot rumah tangga di sisi Jalan Rawajati Barat, Jakarta, Jumat (2/9). Pasca penggusuran pemukiman bantaran rel kereta kawasan Rawajati, sejumlah warga masih memilih bertahan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kota Jakarta Selatan menertibkan bangunan di RT 09 RW 04 di Jalan Rawajati Barat III, Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis 1 September 2016. Saat pembongkaran, warga dan aparat terlibat bentrok dengan melibatkan batu dan kayu. Dari kedua belah pihak pun terluka.

Mismanto (49), seorang warga yang terluka saat bentrok itu, geram dengan sikap pemerintah yang menggusur tempat tinggalnya.

"Saya udah 30 tahun tinggal di sini, anak-anak saya besar di sini, beraninya sama yang kecil, coba itu yang di situ," tunjuk Mismanto ke arah gedung Kalibata City yang jaraknya sangat dekat itu, Sabtu 3 September 2016.

Mismanto baru pulang dari rumah sakit Jumat 2 September 2016 pagi. Dia masih mengapit hasil rontgen kepala, rusuk, dan kakinya.

"Awalnya ada batu bata yang dilempar Sat Pol PP dari belakang, kami dikepung mereka, batu bata itu kena perut saya," katanya sembari memperlihatkan perut sebelah kirinya yang dibalut kain kasa dan memar.

Alat berat merobohkan bangunan di kawasam Rawajati, Jakarta, Kamis (1/9). Penertiban puluhan bangunan liar di kawasan tersebut menyebabkan warga terpaksa menyelamatkan barang berharga mereka ke tepi rel kereta api. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Ia memperlihatkan rontgen terhadap rusuk kirinya, tak hanya rontgen rusuk gambar hitam putih cetak kepalanya juga diperlihatkan pada Liputan6.com sembari ia bercerita.

"Kepala saya ditendang, diinjak-injak, lalu ada yang mukul saya pakai botol beling, pecahannya masuk ke sini (nunjuk kaki) dan ini enggak bisa dijahit," jelas Mismanto.

Ia kini bersandar pada pagar besi yang menjadi batas apartemen Kalibata City dengan perkampungan sepanjang rel kereta api. Trotoar jalan itu diubah tiga anak Mismanto jadi tenda darurat.

"Itu rumah saya," kata Mismanto menunjuk sebuah puing-puing.

Ia belum tahu mau pindah ke mana. Sebuah terpal diikat ke atas pagar, lemari dan perabot rumah jadi dindingnya, sebuah kasur palembang berwarna merah sudah ditiduri Mismanto bersama istri dan tiga orang anaknya.

Ia masih belum mau diajak pindah oleh calon menantunya, anak perempuan Mismanto yang tertua akan menikah. Tapi, mereka sudah tak punya rumah.

Warga beristirahat di bawah tenda darurat di sisi Jalan Rawajati Barat, Jakarta, Jumat (2/9). Pasca penggusuran pemukiman bantaran rel kereta kawasan Rawajati, sejumlah warga masih memilih bertahan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada Kamis 1 September menyebut, sebagian dari warga Rawajati, Jakarta Selatan,  sudah direlokasi di kios pasar milik PD Pasar Jaya. Sedangkan untuk warga yang tidak memiliki usaha, sebagian dipindahkan di rusun Marunda.

"Sebagian ditaruh di pasar, kan. Pasar Jaya, kan, banyak mengusir orang. Jadi kalau kamu punya kios lebih dari satu, kecuali kayak butuh dua, kita akan usir. Persis kayak rusun. Jadi Pasar Jaya pun bentuknya adalah inkubator kayak rusun untuk nolong orang yang enggak punya usaha," ucap Ahok di Balai Kota Jakarta.

Menurut Ahok, bila sejak awal warga sudah memiliki kios usaha, maka secara otomatis mendapat kios Pasar Jaya. "Kalau kamu dagang, otomatis (dapat kios). Kita, kan, niatnya menolong," ucap Ahok.

Menurut Ahok, ide penggusuran Rawajati muncul dari Pemkot Jakarta Selatan. Lahan itu akan dikembalikan sesuai fungsinya sebagai jalur hijau.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya