Liputan6.com, New York - Ada suatu fakta yang disayangkan dalam kehidupan masa kini, yaitu semakin meningkatnya angka perceraian. Hal ini berbeda dibandingkan dengan masa sebelumnya yang masih lebih menghargai pernikahan.
Dalam konteks Amerika Serikat (AS), hampir 50 persen pernikahan berakhir dengan perceraian. Tapi angkanya lebih tinggi lagi pada orang yang menikah lagi.
Advertisement
Mengingat dampak jangka panjang perceraian, terutama luka batin pada anak-anak dalam keluarga yang tercerai-berai, segala cara diupayakan untuk menghindari perceraian.
Dikutip dari Listverse pada Jumat (19/8/2016), berikut ini adalah 10 cara nyeleneh yang dilakukan untuk menghindari perceraian:
1. Melakukan Seks di Hadapan Pastor
Pada Abad ke-16, perceraian dipandang sebagai dosa di hadapan Tuhan. Kaum wanita tidak dapat meninggalkan suaminya karena alasan apapun, kecuali di Prancis. Di sana, kaum wanita memiliki hak untuk menceraikan suaminya jika pasangannya impoten.
Jika sang suami ingin menyelamatkan pernikahan, ia harus membuktikan bahwa ia tidak impoten. Pembuktian dilakukan di pengadilan. Pertama, suami membuka seluruh pakaiannya agar bisa diperiksa oleh suatu tim yang mencubit batang kelaminnya untuk menguji "kelenturan dan gerak alamiah" batang kelamin suami.
Kemudian, pasangan itu harus naik ranjang bersama dan melakukan seks sambil disaksikan oleh seorang pastor dan seorang dokter. Jika suami bisa meraih ejakulasi di dalam istrinya, maka pernikahan itu terselamatkan.
Tapi kaum wanita seringkali bertingkah terhadap suaminya atau menuduh suaminya berbuat curang dengan menggunakan jari. Kebanyakan kaum pria gagal melakukan pembuktian hanya karena caranya terlalu aneh.
Para pria biasanya dipermalukan di hadapan penonton dan kemudian di hadapan semua orang karena cerita tentang pasangan itu kemudian menyebar ke segala penjuru kota.
2. Meminta Istri Minum Air Kotor
Menurut kitab suci, ada cara masuk akal untuk menyelesaikan masalah antara suami dan istri, yaitu dengan meminta istri meminum semangkuk air kotor.
Jika sang suami berpendapat bahwa istrinya berselingkuh tapi tidak bisa membuktikannya, suami wajib membawa istrinya ke hadapan imam dan memberi "sepersepuluh bagian mangkuk berisi gandum."
Sang imam akan mengisinya dengan air suci dan debu, mewajibkan wanitanya untuk bersumpah bahwa ia tidak mencurangi suaminya dan mewajibkan istri itu untuk meminum airnya.
Jika wanita itu benar berselingkuh, maka "perutnya akan membuncit dan pahanya menjadi lunglai". Sebaliknya, jika ia tidak bersalah, ia bisa melangkah sebagaimana biasa.
Waktu Bersama dan Upaya Rehabilitasi
3. Mengurung Diri Selama 2 Minggu
Orang Romania memiliki cara menyelamatkan pernikahan yang memang bisa berhasil, yaitu Kamar Perceraian. Dari 1572 hingga 1867, para pasangan yang berpikir untuk bercerai mengunjungi gereja di Biertan dan mereka akan dikurung dalam sebuah kamar dalam gereja selama 2 minggu.
Pasangan harus berbagi segalanya, mulai dari satu ranjang, satu piring, dan bahkan satu garpu. Jika mereka bisa berbagi segala sesuatu dalam 14 hari dan tetap masih ingin bercerai, maka gereja akan mengizinkannya.
Walau terdengar aneh, keberadaan Kamar Perceraian memang berguna. Dalam 3 abad masa penggunaan, hanya ada satu pasangan yang akhirnya bercerai.
4. Mengancam Membunuh Istri
Dalam setiap budaya, selalu ada cara penanganan perceraian melalui pembunuhan. Di masa lalu, banyak wanita yang terus bersama dengan satu pria saja karena hidup di bawah teror terkait apa yang boleh dilakukan secara legal oleh suami mereka terhadap istri.
Di beberapa negara, hal ini bahkan masih berlaku hingga baru-baru ini. Hingga 1975, di Prancis, kaum pria punya hak untuk membunuh istrinya.
Sebelum itu, Prancis menggunakan UU Napoleon yang mengatakan bahwa para suami yang memergoki istrinya sedang berselingkuh di rumah, ia berhak membunuh istri dan selingkuhannya.
Di beberapa bagian India, hal ini belum berubah. Kaum suami India masih ada saja yang membakar istrinya hidup-hidup, bahkan ada istilah untuk itu, yaitu "membakar pengantin".
Segelintir kaum pria di India meminta tambahan uang mahar dari keluarga istrinya. Dan, jika keluarga istri tidak membayarnya, suami itu membakar istrinya sebagai hukuman. Menurut suatu laporan, setiap bulan masih sekitar 70 wanita India dibakar hingga tewas oleh suaminya.
5. Menggugat Seks
Jika pasangan berhenti bertugas dalam urusan ranjang, bisa saja ia menjadi orang kaya. Seorang wanita di Nice, Prancis, muak dengan kurangnya gairah suaminya dan menggugat karena tidak melayani seks selama 21 tahun.
Pada hakikatnya, wanita itu menggugat suaminya karena tidak mampu memberikan layanan yang secara kontrak pantas diterimanya. Tentu saja ini pandangan yang aneh tentang kehidupan percintaan.
Walaupun begitu, istri tersebut memenangkan kasusnya dan sang suami dipaksa membayar US $15 ribu (US $ 16 ribu nilai 2016, setara dengan Rp 212 juta) sebagai ganti rugi.
Kejutan, kasus ini terjadi pada 2011, bukan pada Abad Pertengahan.
6. Rumah Sakit untuk Pernikahan
China memiliki masalah dengan kebiasaan kaum pria untuk selingkuh. Menurut beberapa survei, sekitar 60 persen warga China pernah berselingkuh, setidaknya satu kali. Lebih dari 50 persen pasangan berpikir untuk bercerai dalam 5 tahun pertama pernikahan mereka.
China menawarkan solusi unik, melalui rumah sakit untuk pernikahan. Rumah sakit itu adalah suatu tempat di mana para pasangan menyelesaikan masalah mereka, bahkan pacar selingkuhan suami juga hadir. Suami dan istri, dan juga istri serta selingkuhan suami, harus belajar berdamai.
Tempat seperti ini ada dengan menganggap bahwa kaum pria memang akan berselingkuh. Tapi, ini sisi gelapnya, yaitu bahwa kaum istri diajar memasak dan mengenakan rias wajah. Menurut pihak rumah sakit, ketika seorang pria mulai selingkuh, itu dimulai dari masakan yang kurang pas.
Lelang Istri hingga Tarung Sampai Mati
7. Pernikahan Berjangka Waktu
Ada sebuah gagasan yang sudah mulai merebak yang menganggap perceraian sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari. Dengan demikian, "pernikahan berjangka waktu" bisa dimisalkan seperti membeli mobil secara sewa-berli (leasing), tapi 'mobil' yang dimaksud di sini adalah pihak istri.
Dasar pemikirannya adalah bahwa pernikahan dipandang sebagai suatu kontrak jangka pendek yang harus selalu diperbaharui setiap beberapa tahun.
Jika pasangan puas dengan pengaturan yang ada, mereka bisa memperbaharui perjanjian dan melihat-lihat bagaimana nantinya selama 7 tahun ke depan. Jika tidak puas, mereka bisa hengkang begitu saja.
Pada 2007, seorang calon politisi Jerman berkampanye dengan janji bahwa pernikahan kontrak hanya berlangsung tujuh tahun, bukannya dengan syarat "hingga mau memisahkan kita".
Pada 2011, para politisi Meksiko mencoba memperkenalkan "masa percobaan" selama 2 tahun sejak awal pernikahan dengan izin berpisah jika dua belah pihak tidak merasa puas.
Dua gagasan itu gagal menjadi peraturan, tapi setidaknya menjadi bahan pembicaraan.
8. Menjual Istri
Dalam Abad ke-18 dan 19 di Inggris, lapisan bawah di masyarakat yang tidak bisa menyelesaikan perselisihan mereka mencari jalan keluar dengan menempatkan kursi di alun-alun, lalu mendudukkan istri di situ, dan memulai lelang.
Suami sepakat menjual istrinya kepada pelelang tertinggi, walaupun nilai lelangnya tidak seberapa. Dalam suatu kasus, seorang pria dilaporkan menjual istrinya dengan imbalan 20 shilling dan seekor anjing.
Uniknya, tindakan ini disetujui bersama oleh pasangan yang bercerai. Sang wanita sama sekali tidak memasalahkan siapa yang melelangnya untuk dibawa pulang. Ada anggapan bahwa siapapun yang rela merogoh uang senilai beberapa shilling tentu memperlakukan mereka dengan lebih baik dibandingkan dengan suaminya.
Mata uang shilling adalah mata uang Inggris yang berlaku lazim di masa dulu.
9. Bertarung Sampai Mati
Pada Abad Pertengahan di Jerman, salah satu pilihan untuk mengakhiri pernikahan adalah dengan mengunci dan mempersenjatai pasangan suami istri yang bertikai dalam suatu arena supaya mereka saling menghajar sampai mati.
Bisa perlu sebulan untuk mempersiapkan untuk mempersiapkan arena yang biasanya ramai dikunjungi. Suami dibekali dengan tongkat pemukul, sedangkan istrinya dibekali sekarung batu, lalu mereka berkelahi hingga ada yang kalah.
Setidaknya, mereka berusaha adil. Suami berkelahi dari dalam lubang dan satu tangannya diikat selama perkelahian. Jika pasangan itu belum ada yang meninggal, pihak yang kalah dihukum mati setelah pertandingan.
Walaupun tidak jelas apa yang dipersengketakan, tapi pastilah mereka sangat saling membenci sehingga memilih untuk berkelahi sampai mati.
10. Menolak Untuk Menceraikan
Hanya yang satu inilah yang benar-benar berhasil. Ternyata, alasan sebenarnya terjadi peningkatan angka perceraian adalah karena para pria pada akhirnya memberikan pilihan kepada kaum wanita untuk melepaskan diri.
Pada masa lalu, orang harus menjalani proses begitu panjang karena kaum wanita tidak bisa keluar rumah. Kaum pria menggugat cerai karena berbagai alasan. Tapi, bagi kaum wanita, hampir mustahil menggugat cerai.
Sudah banyak yang berubah ketika kaum wanita mulai meraih hak mereka dan mampu melepaskan diri dari kaum pria yang kejam. Dengan peningkatan hak-hak wanita, angka perceraian meningkat, tapi ini mungkin hal yang bagus.
Angka bunuh diri kaum wanita menurun 20 persen setelah kaum wanita meraih hak setara untuk menggugat cerai.