Begini Metode Observasi Kejiwaan Jessica di RSCM

Jessica akan mulai menunjukan sisi emosinya ketika dia mendapatkan tekanan, misalnya putus dengan pacar.

oleh Audrey Santoso diperbarui 18 Agu 2016, 13:50 WIB
Jessica Kumala Wongso bersama kuasa hukumnya saat menjalani sidang lanjutan di PN Jakarta Pusat, Senin (15/8). Sidang tersebut dengan agenda pendengaran Saksi ahli psikologi klinis Antonia Ratih Handayani. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Dokter Psikiatri dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Natalia Widiasih Raharjanti‎ mengatakan pihaknya melakukan lima tahap pemeriksaan kejiwaan terhadap Jessica Kumala Wongso dengan metode multiaksial diagnosis.

Pertama, ia dan tim dokter psikiatri melakukan wawancara terstruktur dengan meminta Jessica bercerita soal kematian Mirna, apa yang dilakukan, dipikirkan dan dirasakan Jessica pasca-Mirna meninggal. Setelah itu, Jessica juga menjalani pemeriksaan klinis untuk mengetahui apakah ada sakit fisik yang dialami Jessica sehingga mengganggu perilakunya.

"Kemudian kita lihat data-data Jessica. Ada berkas dari penyidik, rekaman CCTV, transkrip pembicaraan di WA (whatsapp), transkrip pembicaraan Jessica di telepon, termasuk data Australia Federal Police (AFP). Untuk mengetahui ada enggak yang inkonsisten dengan cerita Jessica. Kalau ada akan kami kroscek yang benar yang mana," kata Natalia saat memberi keterangan di sidang ke-13 kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Kemudian, tim psikatri juga mewawancarai Ibunda Jessica Imelda Wongso sebagai orang terdekat Jessica dan Hanie Juwita Boon sebagai saksi yang ada di Kafe Olivier, Grand Indonesia, saat Mirna terkena racun sianida. Terakhir, tim psikiatri menanyakan seputar masalah pribadi yang dialami Jessica selama kurun waktu yang berdekatan dengan peristiwa kematian Mirna.

"Lalu kami minta data dari Ibu Imelda dan Hanie, karena dia ada di lokasi dan menyaksikan juga. Kita menilai apakah perilaku Jessica karena terperiksa saat itu sedang banyak masalah," ujar Natalia.

Hasil pemeriksaan dengan metode multiaksial diagnosis itu menunjukkan Jessica tidak mengalami gangguan jiwa berat. Namun emosi dan agresivitasnya dapat sewaktu-waktu muncul jika dirinya dalam keadaan tertekan.

"Kami simpulkan Jessica selama pemeriksaan tidak ada tanda-tanda gangguan jiwa berat. Tipe kepribadian Jess normal. Dia tidak menunjukkan adanya gangguan kepribadian," jelas Natalia.

"Namun dari riwayat yang diperoleh dari catatan Kepolisian Australia, didapat riwayat kalau ternyata dalam situasi tekanan ada emosi yang muncul, misalnya putus dengan pacar," Natalia menambahkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya