KBRI Damaskus: Perempuan Indonesia Masih Diperdagangkan di Suriah

Pemerintah sejak 2011 sebenarnya telah memberlakukan moratorium pengiriman TKI ke beberapa negara Timur Tengah, termasuk Suriah.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 19 Jul 2016, 15:49 WIB
Namun belakangan jumlah TKI di Suriah menyusut menjadi sekitar 8.000 dari 30.000 orang, setelah sebagian besar dievakuasi.

Liputan6.com, Jakarta - Fakta mengejutkan diungkap KBRI Damaskus di Suriah. Mereka menyebut, tenaga kerja Indonesia (TKI) masih sering diperdagangkan di negara tersebut.

Hal ini menurut KBRI Damaskus merupakan bentuk pelanggaran hukum. Sebab, pemerintah sejak 2011 telah memberlakukan moratorium pengiriman TKI ke beberapa negara Timur Tengah, termasuk Suriah.

"Perempuan Indonesia masih diperjualbelikan ke Suriah sebagai pembantu rumah tangga di tengah konflik. Menyedihkan," sebut Pejabat Konsuler KBRI Damaskus AM Sidqi kepada Liputan6.com, Selasa (19/7/2016).

Fakta ini mencuat usai tim KBRI Damaskus menyelamatkan sembilan TKI dari wilayah Allepo. Para TKI ini mengakui mereka masuk ke Suriah secara ilegal.

Karena itu Sidqi meminta pemerintah pusat mengambil tindakan atas masih adanya pengiriman TKI ke Suriah. Sebab, bukan hanya melanggar moratorium, wilayah Suriah sangat tidak aman bagi WNI yang ingin bekerja.

Hal tersebut terkait perang saudara yang masih berlangsung di hampir seluruh wilayah Suriah. Parahnya lagi, KBRI Damaskus mengetahui sejumlah TKI masuk ke Suriah dan bekerja secara ilegal di daerah konflik seperti Raqqa dan Allepo.

"Masalahnya berada di Tanah Air. Jika serius menutup pengiriman, kami di Suriah tidak akan kewalahan seperti ini," jelas Sidqi.

"Masih banyak TKI yang terjebak di wilayah konflik Aleppo. KBRI Damaskus juga masih terus berjuang untuk bisa memulangkan seluruh WNI dari Suriah," sambung dia.

Sejak 2012, KBRI Damaskus telah upaya merepatriasi WNI dari wilayah Suriah. Sebanyak 12.430 WNI dari Suriah sudah berhasil dipulangkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya