Tradisi Pasca-Lebaran 2 Ningrat Cirebon

Gerebek Syawal menjadi salah satu tradisi turun-temurun yang dilakukan keluarga keraton di Cirebon, Jawa Barat.

oleh Panji Prayitno diperbarui 15 Jul 2016, 10:03 WIB
(Panji Prayitno/Liputan6.com)

Liputan6.com, Cirebon - Gerebek Syawal menjadi salah satu tradisi turun-temurun yang dilakukan keluarga keraton di Cirebon, Jawa Barat. Tradisi ini dilakukan dengan mengunjungi makam para leluhur keraton di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati Cirebon.

Seperti yang mereka lakukan pada 13 Juli 2016. Pagi itu, baik keluarga, kerabat keraton berkumpul. Mereka bersama-sama menuju makam Wali Songo, Sunan Gunung Jati. Sambil berjalan berbarengan, rombongan menuju area pemakaman yang juga merupakan salah satu situs sejarah di Cirebon itu.

(Panji Prayitno/Liputan6.com)


Sejarawan Cirebon Opan Safari menyampaikan, tradisi berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati tersebut bukan hanya dilakukan oleh keluarga keraton. Warga yang memiliki keturunan atau leluhur yang dimakamkan di kompleks pemakaman Gunung Jati pun ikut melakoni tradisi tersebut.

Namun, umat Muslim atau keluarga keraton sebelumnya melaksanakan ibadah puasa Syawal terlebih dahulu selama enam hari.

Dia menuturkan, tradisi Gerebek Syawal dimulai pada 1570, setelah Fatahillah, menantu Sunan Gunung Jati wafat. Di Cirebon, Gerebek Syawal tak cuma berziarah saja, tapi juga menjadi ajang silaturahmi antara keluarga keraton dengan warga.

"Setelah keluarga keraton ziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Sultan Kanoman dan keluarganya turun kemudian bersalaman dengan warga dan makan bersama warga," kata Opan di Cirebon, Jabar, Rabu 13 Juli 2016.

Dia mengatakan, tradisi Gerebek Syawal di Cirebon lebih mengedepankan kekeluargaan dan silaturahmi.

Pada momen itu, warga bisa makan bersama keluarga keraton dengan dipimpin oleh istri-istri kuwu atau kepala desa se-Cirebon. Pada tradisi makan bersama keluarga keraton ini, peran istri para kuwu sangat penting memimpin warganya.

"Istri para kuwu wajib melayani warga yang ikut dalam tradisi Gerebek Syawal," tutur Opan.

Namun, kata dia, keraton-keraton di Cirebon memiliki jadwal pelaksanaan tradisi Gerebek Syawal yang berbeda. Jika Keraton Kanoman Cirebon melaksanakan Gerebek Syawal pada H+7 setelah Idul Fitri, Keraton Kasepuhan Cirebon berbeda dua hari setelah Kanoman.

Opan mengisahkan, pada tahun 1677 Keraton Cirebon sudah dibagi menjadi dua, yakni Kanoman dan Kasepuhan.

"Pada 1570 kan masih satu keraton yaitu Cirebon. Sejak terbagi menjadi dua, jadwal Gerebek Syawal yang masih konsisten dilakukan pada H+7 itu Keraton Kanoman. Kalau Kasepuhan biasanya setelah Kanoman," ucap Opan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya