Ini Filosofi Ketupat yang Anda Nikmati di Hari Raya

Ketupat atau kupat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Namun, tahukah Anda apa makna dari kupat?

oleh Sulung Lahitani diperbarui 06 Jul 2016, 14:50 WIB
Pedagang yang menjual kulit ketupat mulai memadati sekitar Pakualaman,Yogyakarta, menjelang Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah, Senin (4/7). H-2 menjelang Lebaran, pedagang musiman yang menjual kulit ketupat mulai bermunculan. (Liputan6.com/Boy Harjanto)

Liputan6.com, Jakarta - Ketupat atau kupat sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Rasanya ada yang tidak lengkap bila di hari raya tidak mencicipi ketupat. Namun, tahukah Anda apa makna tersendiri dari ketupat? Berikut filosofi ketupat yang tidak Anda ketahui sebelumnya.

1. Kupat atau ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam di Jawa sejak masa pemerintahan Demak pada awal abad ke-15.

2. Kupat berasal dari kata Ngaku Lepat yang berarti mengaku bersalah.

3. Bentuk ketupat melambangkan arah kiblat yang dalam bahasa Jawa disebut kiblat papat (mata angon) dan limo pancer (kiblat).

4. Sebutan janur pembungkus ketupat berasal dari kata Jatining Nur yang berarti Hati Nurani.

5. Anyaman Janur menggambarkan kompleksitas masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturahmi.

6. Sementara beras di dalam ketupat sendiri melambangkan nafsu duniawi.

7. Secara keseluruhan, ketupat merupakan simbol nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

8. Ada pula yang menyebut ketupat merupakan demitologisasi dan desakralisasi pemujaan Dewi Sri yang dimuliakan sejak masa kerajaan kuno Majapahit dan Pajajaran.

*sumber: infografis by Poligrabs

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

**Ingin mendapatkan informasi terbaru tentang mudik, bisa dibaca di sini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya