Sepasang Ondel-ondel Iringi Pawai Obor Sambut Ramadan

Sepasang ondel-ondel laki-laki dan perempuan menari mengikuti tetabuhan marawis khas Negeri Padang Pasir.

oleh Fadjriah Nurdiarsih diperbarui 05 Jun 2016, 09:15 WIB
Sepasang Ondel-ondel Iringi Pawai Obor Sambut Ramadan

Liputan6.com, Jakarta Sepasang ondel-ondel, laki-laki dan perempuan, berjoget-joget mengiringi alunan musik marawis yang dimainkan oleh para remaja. Tangan ondel-ondel itu bergoyang-goyang dan sesekali tubuhnya berputar mengikuti irama musik. Di belakangnya, mobil colt terbuka membawa rombongan penabuh marawis, alat musik tepuk yang terbuat dari kulit. Salah seorang di antara penumpang colt itu menyanyi dengan pengeras suara.

Di belakang mobil yang  berjalan pelan itu, puluhan orang—anak-anak, remaja, hingga dewasa—mengiringi berjalan sambil membawa colen (obor khas Betawi). Beberapa memilih naik sepeda motor.

Warga bergembira menyambut Ramadan dengan melakukan pawai obor (Liputan6.com/Fadjriah Nurdiarsih)

Warga yang melihat keramaian ini riuh. Sarifudin, salah seorang warga, mengatakan sudah jarang masyarakat yang melestarikan budaya pawai obor. “Masyarakat di kampung ini termasuk masih bagus, mau melestarikan tradisi,” tuturnya.

Ya, pada Sabtu malam, 4 Juni 2016, warga Kampung Kebagusan RW 01 yang berdiam di sekitar Masjid Jami Baitulrahim, merayakan kegembiraan menyambut Ramadan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pawai obor keliling kampung. Jalur yang ditempuh lumayan juga, sekitar 5 kilometer dan melalui jalan raya TB Simatupang. Namun hal itu tidak membuat rasa antusias warga untuk mengikuti perhelatan yang digelar setelah salat Isya itu surut.

Menyambut Ramadan, warga Jakarta melakukan pawai obor keliling kampung.

Ade Kurniadi, pembina Remaja Masjid Baitulrahim, mengatakan inisiatif pawai obor ini datang dari kalangan remaja. Mereka ingin menyalurkan energinya untuk kegiatan yang positif. “Acara ini pun rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadan,” tuturnya.

Tsssing, suara petasan yang melontar tinggi membuat para peserta bersorak. Berkali-kali panitia repot mengingatkan agar tidak ada peserta yang tercerai-berai dari barisan. Ondel-ondel menjaga barisan pawai dengan membuka jalan.

Dalam tradisi Betawi, ondel-ondel adalah boneka besar yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang diberi pakaian dan perhiasan seperti pengantin. Muka ondel-ondel laki-laki dicat merah, sementara ondel-ondel perempuan dicat putih. Ondel-ondel atau barongan cukup tinggi, sekitar 2,5 meter dan berfungsi sebagai pengusir roh jahat.

Ondel-ondel adalah boneka raksasa dari bilah bambu yang berfungsi sebagai pelindung kampung.

Masuknya ondel-ondel dalam kebudayaan Betawi merupakan pengaruh dari kebudayaan pra-Islam, yakni animisme. Bahkan, ondel-ondel pada mulanya dianggap sebagai perwujudan setan. Maka, malam itu, menarik sekali menyaksikan ondel-ondel yang berasal dari zaman pra-Islam dan dianggap sebagai pelindung kampung, tampil berkawin dengan musik marawis yang merupakan hasil kesenian pengaruh Islam atau Arab. Namun, sebenarnya hal itu tidak mengherankan mengingat cara berislam orang Betawi.

Menurut Yahya Andi Saputra kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu, “Islamnya orang Betawi memberi tempat kepada hal-hal yang bersifat kepercayaan gaib.” Karena itulah, kata pria yang juga aktif bersahibul hikayat ini, di Betawi ada ancak—seserahan untuk makhluk halus.

Suara tetabuhan diiringi nyanyian terus bergema, “Syirillah ya Ramadhan, Syirillah ya Ramadhan. Syirillah ya Ramadhan, bil qolbul wal ghufron....”

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6  

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya