Perbudakan Bangsa Kulit Putih yang Terlupakan Dalam Sejarah

Siapa sangka, ternyata bangsa kulit putih juga pernah menjadi budak di benua Amerika, hanya karena pertikaian politik di Eropa?

oleh Alexander Lumbantobing diperbarui 26 Mei 2016, 09:00 WIB
Siapa sangka, ternyata bangsa kulit putih juga pernah menjadi budak di benua Amerika, hanya karena pertikaian politik di Eropa? (Sumber pinterest.com)

Liputan6.com, Quebec - Sejarah perbudakan bangsa berkulit hitam memiliki banyak catatan dalam sejarah. Perbudakan keturunan Afrika di Amerika Serikat bahkan menjadi salah satu faktor yang ikut andil dalam sejarah pembentukan AS.

Namun demikian, tidak banyak catatan tentang perbudakan yang menimpa bangsa kulit putih. Ternyata, karena pertikaian politik antara Inggris dan Irlandia pada Abad ke-17, bangsa Irlandia mengalami penderitaan diperbudak oleh Inggris. 

Dikutip dari globalresearch.ca pada Kamis (26/5/2016), perbudakan warga Irlandia bermula ketika Raja James II menjual 30 ribu tahanan warga Irlandia sebagai budak ke Dunia Baru. Proklamasi 1625 mewajibkan para tahanan politik Irlandia dikirim ke seberang laut dan dijual kepada para pemukim Inggris di Hindia Barat.

Pada pertengahan 1600-an, bangsa Irlandia menjadi bagian terbesar budak yang dijual ke Antigua dan Montserrat. Sehingga, pada saat itu, sekitar 70% dari penduduk Montserrat adalah budak-budak Irlandia.

Irlandia segera menjadi sumber terbesar dagangan manusia bagi warga Inggris pedagang budak. Kebanyakan budak-budak pertama yang dikirim ke Dunia Baru sebenarnya adalah orang kulit putih.

Dari 1641 hingga 1652, lebih dari 500 ribu orang Irlandia dibunuh oleh pihak Inggris dan sekitar 300 ribu orang lagi dijual sebagai budak ke Hindia Barat, Virginia, dan New England. Virginia saat itu adalah salah satu koloni terbesar Inggris di benua Amerika.

Dalam dekade itu, sekitar 52 ribu orang Irlandia (kebanyakan wanita dan anak-anak) dijual ke Barbados dan Virginia. Sekitar 30 ribu pria dan wanita Irlandia lainnya diangkut untuk dilelang kepada pelelang tertinggi.

Pada 1656, Oliver Cromwell, pimpinan pendudukan militer Inggris atas Irlandia, memerintahkan membawa 2.000 orang anak-anak Irlandia ke Jamaika dan dijual sebagai budak kepada para pemukim bangsa Inggris di sana.

Kebanyakan orang pada masa kini menolak menyebut budak-budak Irlandia sebagaimana adanya, misalnya dengan penggunaan istilah “pembantu kontrak”. Namun demikian, dalam kasus-kasus pada Abad ke-17 dan 18, jelaslah bahwa para budak Irlandia itu memang sekedar budak.

Pada masa yang sama, perdagangan budak dari kulit hitam dari Afrika baru sedang akan dimulai. Dari sejumlah catatan, disebutkan bahwa para budak kulit hitam dari Afrika diperlakukan masih lebih baik.

Perhitungan Ekonomi dan 'Pembiakan'

Para budak Afrika berharga sangat mahal pada akhir 1600-an, yaitu seharga 50 sterling. Sementara itu, para budak Irlandia jauh lebih murah, hanya 5 sterling.

Jika seorang pemilik perkebunan mencambuk atau memukuli seorang budak Irlandia hingga meninggal, hal itu tidak dipandang sebagai kejahatan.

Kematian budak dipandang sebagai kerugian moneter, tapi lebih 'murah' menewaskan seorang budak Irlandia daripada seorang budak Afrika.

Para majikan bangsa Inggris pun memanfaatkan para budak wanita Irlandia untuk kenikmatan pribadi maupun keuntungan yang lebih besar. Walaupun memiliki anak dari majikan bangsa Inggris, anak-anak seorang budak tetaplah menjadi budak dan sekedar menambah jumlah tenaga kerja gratis bagi sang majikan.

Bahkan, jika seorang budak wanita Irlandia akhirnya dibebaskan, maka anaknya tetaplah menjadi budak untuk majikannya. Karena itu, ibu-ibu Irlandia kerap meninggalkan anak mereka dan tetap hidup menyendiri.

Siapa sangka, ternyata bangsa kulit putih juga pernah menjadi budak di benua Amerika, hanya karena pertikaian politik di Eropa? Budak-budak Irlandia pertama yang mendarat di benua Amerika adalah anak-anak. (Sumber moviepilot.com)

Pada masanya, bangsa Inggris menemukan cara yang 'lebih bagus' untuk memanfaatkan para wanita Irlandia tersebut (bahkan ada sejumlah remaja perempuan berusia 12 tahun).

Mereka mulai menjodohkan para wanita dan remaja perempuan Irlandia dengan para pria dari Afrika untuk menghasilkan budak-budak ras campuran yang khas, dikenal dengan sebutan 'mulatto'.

Para budak 'mulatto' ini berharga lebih tinggi daripada keturunan Irlandia, tapi masih lebih hemat daripada membeli budak baru keturunan Afrika.

Praktik penjodohan kaum wanita Irlandia dengan pria Afrika ini sangat meluas sehingga akhirnya, pada 1681, dikeluarkanlah peraturan yang "melarang praktik perjodohan budak wanita Irlandia dengan budak pria Afrika guna keperluan produksi budak untuk dijual."

Dengan kata lain, praktik itu dihentikan hanya karena mengusik keuntungan bagi perusahaan-perusahaan besar pengangkut budak.

Inggris terus mengapalkan puluhan ribu budak Irlandia hingga seabad ke depan. Sejumlah catatan menunjukkan bahwa, setelah Pemberontakan Irlandia 1798, ribuan budak Irlandia dijual ke Amerika dan Australia.

Perlakuan buruk dialami para budak Afrika dan Irlandia. Suatu kapal Inggris bahkan membuang budak-budak dari kapal ke Samudera Atlantik hanya supaya para awak punya banyak bahan pangan untuk makanan mereka.

Tidak ada satupun budak Irlandia ini kembali ke kampung halamannya. Mereka lenyap begitu saja dan terlupakan dalam buku-buku sejarah.

White Cargo, salah satu buku yang membahas perbudakan warga kulit putih Irlandia di benua Amerika pada abad ke-17. (Sumber amazon.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya