Rinjani, Gunung Paling Banyak Sampah

Berdasarkan survei setidaknya ada 453 ton sampah yang ditemukan di 8 Taman Nasional Gunung dan 7 gunung selama 11-24 April 2016.

oleh Zainul Arifin diperbarui 30 Apr 2016, 20:10 WIB
Berdasarkan survei setidaknya ada 453 ton sampah yang ditemukan di 8 Taman Nasional Gunung dan 7 gunung selama 11-24 April 2016. (Liputan6.com/Zainul Arifin)

Liputan6.com, Lumajang - Kuota pengunjung kawasan taman nasional bakal dihitung ulang. Selain untuk membatasi jumlah kunjungan, ini juga bertujuan meminimalkan masalah sampah yang dibawa pengunjung di tiap taman nasional.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, sejauh ini yang sudah dilakukan penghitungan ulang daya tampungnya adalah Taman Nasional Ujung Kulon.

"Karena Taman Nasional Ujung Kulon ini juga kepulauan, khawatir sampah jadi masalah tersendiri. Ke depan, daya tampung ke semua taman nasional juga dihitung ulang," ujar Tuti saat hadir di Jambore Sapu Gunung di Ranupani, Semeru, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (30/4/2016).
 
Berdasarkan survei Komunitas Sapu Gunung bersama Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) setidaknya ada 453 ton sampah yang ditemukan di 8 Taman Nasional Gunung dan 7 gunung selama 11-24 April 2016.

Sebanyak 53 persen atau setara 250 ton di antaranya adalah sampah plastik yang dihasilkan dari 150.688 pendaki tiap tahunnya.
 
"Hasil survei itu memprihatinkan. Di antara gunung taman nasional itu, nomor satu adalah Taman Nasional Gunung Rinjani paling banyak sampah plastik," ucap Tuti.
 
Tingginya angka kunjungan di taman nasional itu belum dibarengi dengan pengelolaan sampah. Secara keseluruhan, ada 50 taman nasional yang butuh perhatian pemerintah. Tetapi baru beberapa taman nasional yang diprioritaskan untuk penanganan sampah. Salah satunya adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
 
"Beberapa taman nasional yang kita prioritaskan seperti Taman Nasional Gunung Semeru ini adalah yang jadi favorit pencinta alam. Kita gagas adalah penyediaan bank sampah dengan menggandeng pemerintah daerah dan kelompok pencinta alam," papar Tuti.
 
Di tahun ini, sambung dia, Kementerian LHK belum memiliki anggaran khusus untuk penyediaan bank sampah di kawasan taman nasional.

"Pengelolaannya melibatkan masyarakat setempat karena ada nilai ekonomisnya. Tapi terpenting adalah bagaimana mengubah perilaku membuang sampah," tegas Tuti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya