Pakar: Aksi Penyilet Misterius Bukan Pengalih Perhatian

Menurut sosiolog kriminalitas UGM Suprapto, aksi penyilet misterius cenderung ke arah teror dan kriminal.

oleh Yanuar H diperbarui 29 Apr 2016, 22:31 WIB
Menurut sosiolog kriminalitas UGM Suprapto, aksi penyilet misterius cenderung ke arah teror dan kriminal. (Ilustrasi: Istimewa)

Liputan6.com, Yogyakarta - Kasus-kasus penganiayaan yang terjadi di Kota Yogyakarta, seperti penyilet misterius telah menjadi aksi teror dan meresahkan warga. Bahkan, jatuhnya korban membuat polisi menggelar patroli besar-besaran di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sosiolog kriminalitas Universitas Gadjah Mada, Suprapto mengatakan, pihaknya melihat aksi-aksi yang terjadi di Yogyakarta saat ini berbeda dengan kasus teror beberapa waktu lalu. Saat itu aksi teror sebagai pengalih perhatian lantaran ada persoalan besar atau hajatan besar di Jakarta.

Modus teror bisa dilakukan dengan memecah kaca mobil, menyerang toko. Namun saat ini menurut Suprapto, aksi penyilet misterius cenderung ke arah teror dan kriminal.

"Sekarang ke arah teror. karena dilakukan berulang kali jadi resah takut bukan seperti dahulu yang mengalihkan perhatian," ucap Suprapto di Yogyakarta, Jumat (29/4/2016).

Ia membandingkan dengan kasus pelemparan bom molotov kepada salah satu massa Partai Persatuan Pembangunan, beberapa waktu lalu. Hal itu dilakukan pelaku karena lawan politik. Namun karena spontanitas oleh oknum yang ingin membuat resah. Ia menyakini pelaku sendiri tidak menduga jika korban yang terkena bom molotov ini akan meninggal dunia.

"Secara teoritik dalam kerumunan yang crowded (padat) seperti itu, tindakan anarki bisa saja terjadi. Jadi bukan peristiwa politis itu kriminal murni," ujar sosiolog asal UGM Yogyakarta tersebut.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya