Kontroversi, Organisasi Ini Dukung Ibu Pengidap Virus Zika Aborsi

Sebuah organisasi nirlaba di Belanda menimbulkan kontroversi karena memberikan bantuan untuk ibu pengidap Zika melakukan aborsi

oleh Sulung Lahitani diperbarui 10 Feb 2016, 19:27 WIB
Sebuah organisasi nirlaba di Belanda menimbulkan kontroversi karena memberikan bantuan untuk ibu pengidap Zika melakukan aborsi

Citizen6, Jakarta Sebuah organisasi nonprofit di Belanda menimbulkan kontroversi karena berjanji memberikan bantuan aborsi bagi ibu penderita Zika. Women on Web bersedia memberikan aborsi gratis bagi perempuan di negara-negara yang terkena dampak epidemi virus Zika.

Women on Web merupakan kelompok kesehatan reproduksi yang didirikan 10 tahun lalu. Organisasi nirlaba ini menyediakan informasi kesehatan, konsultasi dengan dokter, alat kontrasepsi, dan aborsi medis yang aman dengan biaya yang sedikit, bahkan gratis.

Aborsi medis sendiri merupakan pilihan non-bedah untuk mengakhiri kehamilan pada trimester pertama. Proses ini melibatkan penggunaan obat mifepristone dan misoprostol. Epidemi Zika tengah menjadi perbincangan karena juga meningkatkan persentase bayi yang lahir dengan mikrosefali.

Mikrosefali adalah suatu kondisi di mana otak janin berhenti tumbuh sehingga bayi lahir dengan kerusakan otak dan kepala yang abnormal.

"Ini keadaan darurat bagi kesehatan masyarakat. Dengan mengendalikan kehamilan berisiko, maka kelahiran bayi-bayi cacat bisa dikurangi," tutur direktur dan pendiri Women on Web, Dr. Rebecca Gomperts seperti dikutip dari Buzzfeed Health, Rabu (10/02/2016).

buzzfeed
 

Prosedurnya tidak terlalu sulit. Jika seorang ibu hamil mengirimkan hasil laboratorium yang menunjukkan mereka terinfeksi virus Zika, Women on Web akan mengirimkan paket yang berisi pil-pil untuk menggugurkan kandungan. Tentunya, ibu hamil tersebut bisa berkonsultasi secara gratis dengan ahli-ahli yang tergabung di Women on Web.

Namun bagaimanapun, kampanye aborsi bagi pengidap Zika ini masih menimbulkan kontroversi di beberapa negara. Selain terkendala karena hukum, juga banyak wanita yang memilih melahirkan anak cacat ketimbang menggugurkan kandungan mereka.

Menurut WHO, diperkirakan 68.000 perempuan meninggal tiap tahun karena aborsi yang tidak aman. Karenanya, ketimbang melarang aborsi, WHO lebih setuju untuk menjadikan aborsi dibuat legal, aman, dan mudah diakses.

"Kami ingin memastikan setiap wanita yang melakukan aborsi merasa aman," tutup Gomperts. (sul)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya