Keberanian Bermimpi Leicester City dan Kerendahan Hati Ranieri

Leicester City kini memimpin lima poin di puncak klasemen Liga Inggris.

oleh Windi Wicaksono diperbarui 07 Feb 2016, 07:35 WIB
Striker Leicester, Jamie Vardy, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Sunderland pada laga Liga Premier Inggris di Stadion King Power, Inggris, Sabtu (8/8/2015). (AFP Photo/Ben Stansall)

Liputan6.com, Leicester - Tidak seorang pun memperkirakan terhadap apa yang terjadi pada Leicester City musim ini. Leicester City di puncak klasemen sementara Liga Premier Inggris dengan keunggulan lima poin dari peringkat kedua, Tottenham Hotspur.

Pasar taruhan malah menempatkan Leicester sebagai salah satu kandidat tim yang berpotensi degradasi ke Divisi Championship. Setelah melakoni 25 pertandingan, kini klub berjuluk The Foxes ini malah salah satu favorit juara Liga Inggris.

Baca Juga

  • Zidane: Ronaldo Bermain seperti Binatang Buas
  • Jadi Pemain MU, Superhero Ini Selebrasi Kecup Kening Rooney
  • Demam Pep Guardiola Mulai Landa Suporter Manchester City

Namun, manajer Leicester, Claudio Ranieri, mengaku tak percaya kepada pasar taruhan yang menempatkan timnya sebagai favorit. "Pasar taruhan awal musim, Ranieri pelatih yang dipecat pertama," ujar Ranieri, seperti dilansir ESPN FC.

Kemenangan 3-1 Leicester atas tuan rumah Manchester City, Sabtu (6/2/2016) semakin menguatkan kans mereka menjadi juara. Ranieri sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan bagaimana tim asuhannya mampu memuncaki klasemen sampai Februari.

Apakah tak lama lagi sensasi The Foxes berakhir dan posisinya perlahan turun? Atau malah Leicester City akan menjadi kejutan terhebat dalam sejarah sepak bola Inggris dengan menjuarai Liga Inggris musim ini.  

Foto dok. Liputan6.com


"Musim ini liga berjalan gila," kata Ranieri sambil menggeleng. "Saya tidak tahu mengapa. Jika kami menang ... Saya tidak ingin berpikir tentang hal itu, pikiran saya untuk laga tujuh hari lagi melawan Arsenal. Pertandingan yang sulit, mereka punya pemain dan stadion yang fantastis," ungkapnya.

"Saya ingin menunggu sampai akhir April, karena saya tahu pertandingan terakhir sangat ketat. Ini momen fantastis bagi Liga Primer Inggris, tidak ada yang tahu siapa yang akan memenangkannya," ujar pelatih asal Italia ini.

Klub yang identik dengan warna biru ini juga telah membuktikan mereka tidak hanya mengandalkan Jamie Vardy dan Riyad Mahrez. Faktor kekuatan Leicester terletak pada kekompakan mereka di atas lapangan dan semangat tim yang dipuji Ranieri beberapa kali.

Foto dok. Liputan6.com


Mantan arsitek Chelsea ini juga punya kebiasaan unik jika timnya menang. Ranieri biasa mentraktir anak-anak asuhnya pizza usai memetik tiga poin. Cara ini pula yang membuat Leicester tetap membumi meski menduduki puncak klasemen.  

"Kami bermain tanpa tekanan karena kami tidak harus memenangi liga. Kami harus menikmatinya," tutur pelatih yang dijuluki The Tinkerman.

Ranieri dianggap sosok di balik performa gemilang The Foxes musim ini. Ranieri bukan lagi dikenal sebagai tukang utak-atik taktik, dia menggabungkan spirit khas sepak bola Inggris dan catenaccio ala Italia.

"Semangat yang fantastis. Saya sudah mengatakan ini sejak awal. Ada ruang ganti yang fantastis. Ketika mereka berada di lapangan mereka saling membantu dan berjuang untuk satu sama lain. Ini adalah periode terbaik yang saya ingat dalam karier saya," ujarnya.

Foto dok. Liputan6.com


Leicester City dan Ranieri mulai berani bermimpi mengangkat trofi paling bergengsi di Negeri Ratu Elizabeth. Mereka memiliki semuanya untuk bisa melakukannya. Leicester akan berusaha membuktikan, menjadi juara bagi tim seperti mereka bukan hanya ada di dongeng.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya