BKPM: Panasonic dan Toshiba Tutup karena Kalah Saing dengan China

Kedua perusahaan asal Jepang ini belum melaporkan secara resmi data efisiensi dan PHK para pegawainya kepada BKPM.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 03 Feb 2016, 13:50 WIB
Kedua perusahaan asal Jepang ini belum melaporkan secara resmi data efisiensi dan PHK para pegawainya kepada BKPM.
Liputan6.com, Jakarta -
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) membenarkan bahwa ada langkah restrukturisasi yang dilakukan dua pabrik elektronik raksasa, Panasonic dan Toshiba, di Indonesia. Imbas dari hal tersebut, ribuan buruh terkena PHK.
 
Sayangnya, kedua perusahaan asal Jepang ini belum melaporkan secara resmi data efisiensi dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) para pegawainya kepada BKPM. 
 
Kepala BKPM Franky Sibarani mengaku telah memperoleh informasi bahwa Panasonic dan Toshiba melakukan restrukturisasi sebagai upaya efisiensi di tengah persaingan industri elektronik yang ketat di Tanah Air. 
 
"Dari informasi yang diterima, ada yang menyampaikan memang ada restrukturisasi," ujarnya saat ditemui dalam konferensi pers Realisasi Komitmen Investasi Januari 2016 di gedung BKPM, Jakarta, Rabu (3/2/2016). 
Dia menjelaskan, restrukturisasi perusahaan terpaksa dilakukan Panasonic dan Toshiba karena kalah bersaing dengan produk elektronik dari China. Akhirnya, perusahaan tersebut berencana memproduksi barang elektronik jenis lain. 
 
"Dari sisi kompetisi, produk mereka kalah dengan China, tapi bukan berarti mati. Mereka switch (pindah) ke produk lain," ia menerangkan. 
 
Franky menyayangkan apabila Panasonic maupun Toshiba belum melaporkan upaya efisiensi ini kepada BKPM meskipun sudah ada desk khusus investasi yang melayani perusahaan yang berencana mengurangi pekerja. "Korporasi belum menyampaikan kepada kami. Jadi kami belum bisa bilang tutup," dia menambahkan.  
 
Ia mengatakan industri elektronik di Indonesia masih bertumbuh dengan baik. Buktinya, kata Franky, izin prinsip komitmen investasi di sektor mesin dan elektronik meningkat 106 persen pada periode Januari 2016.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya