Data Ekonomi China Bikin Harga Minyak Tertekan

Aksi ambil untung mendorong harga minyak kembali tertekan di awal pekan.

oleh Agustina Melani diperbarui 02 Feb 2016, 05:17 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, New York - Harga minyak dunia melemah tajam di awal pekan ini seiring data ekonomi China merosot. Hal itu meningkatkan kekhawatiran atas prospek permintaan energi.

Sentimen itu mendorong harga minyak merosot untuk pertama kali dalam lima sesi. Harga minyak mentah dunia West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun US$ atau enam persen menjadi US$ 31,62 per barel di New York Mercantile Exchange. Penurunan harga minyak terjadi setelah mencatatkan kenaikan skeitar 10,8 persen dalam empat sesi.

Sementara itu, harga minyak Brent melemah US$ 1,75 atau 4,9 persen ke level US$ 34,24 per barel. Analis Forex.com, Fawad Razaqzada menuturkan, penurunan harga minyak dipicu aksi ambil untung.

"Besarnya pemulihan baru-baru ini terjadi juga di tengah tren merosot secara keseluruhan. Harga minyak naik terlalu cepat. Diharapkan Arab Saudi dan Rusia akan mengurangi produksi," ujar dia seperti dikutip dari Marketwatch, Selasa (2/2/2016).

Selain itu, harga minyak dunia kembali merosot juga didorong data ekonomi mengecewakan dari China yang merupakan importir minyak terbesar di dunia.

"Data manufaktur yang lemah membebani saham dan minyak. Dunia berusaha untuk mengukur laju perlambatan ekonomi China. Kekhawatiran terhadap permintaan global berkorelasi tinggi dengan apa yang terjadi bursa saham," kata Analis Scheneider Electric Robbie Fraser.

Pada pekan lalu, harga minyak menguat di tengah spekulasi Rusia dan Arab Saudi sedang mempertimbangkan pemangkasan produksi minyak untuk mendukung harga. Akan tetapi kenaikan itu memudar setelah pejabat negara produsen minyak atau OPEC membantah hal tersebut. (Ahm/Igw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya