Liputan6.com, Kabul - Afghanistan. Seperti diceritakan petualang asal Indonesia, Agustinus Wibowo, lewat bukunya Selimut Debu seakan sukar dilepaskan dari jejak peperangan. Aksi teror, desing peluru, kemiskinan, kesedihan, dan air mata, mewarnai perjalanan negara berpenduduk 32 juta jiwa tersebut.
Puing-puing sisa perang masih banyak berserakan di Afghanistan. Kemiskinan dan keterbelakangan juga kental terlihat, setidaknya hingga kunjungan kedua Agustinus ke Afghanistan sekitar 2006 lalu.
Baca Juga
- Pemerintah Nekat Gelar MotoGP di Sirkuit Jalanan GBK?
- Ferguson Lebih Terhibur Nonton City Ketimbang MU
- Ajaib, Atlet Selamat Usai Menggelinding 300 Meter di Tebing Curam
Advertisement
Di bukunya, Agustinus menulis bangunan modern memang telah menjulang di Kabul. Beragam mal dan gerai makanan bernuansa Amerika dan Eropa juga menghiasi sebagian wajah ibu kota. Namun, jejak perang dan kekejaman rezim yang berkuasa seakan tak lekang dari negeri berdebu itu.
Kota-kota di Afghanistan punya cerita kelamnya masing-masing. Jejak kengerian perang dan rezim penguasa terekam dalam berbagai bentuk, termasuk sebuah stadion sepak bola di Kabul.
Stadion Ghazi, begitu orang-orang menyebutnya. Lokasinya di pusat Kota Kabul. Stadion berkapasitas 25 ribu penonton itu berdiri sejak era King Amanullah Khan 1923 lalu.
Ghazi berarti pahlawan. Nama ini diberikan untuk memperingati kemenangan Afghanistan pada perang Anglo-Afghan III. Perang ini bertujuan mempertahankan perjanjian Anglo-Afghan tahun 1919.
Pada 1941, Stadion Ghazi untuk pertama kali menggelar pertandingan internasional antara timnas Afghanistan melawan Iran. Saat itu, skor berakhir imbang tanpa gol. Pada 1963, musisi asal Amerika Serikat Duke Ellington pernah manggung di sana atas permintaan pemerintahan AS.
Saat ini, Stadion Ghazi sudah lebih modern. Tanah yang lama telah diganti dan ditempatkan rumput sintetis di atasnya. Lintasan lari juga diperbaiki dan lampu-lampu dipasang untuk penerangan malam. Meski demikian, status sebagai stadion angker masih terus melekat di bangunan tak beratap tersebut.