Hubungan antara Tutupnya Ford dengan Sektor Tambang yang Lesu

harga komoditas rendah sehingga mempengaruhi penjualan industri otomotif.

oleh Achmad Dwi Afriyadi diperbarui 26 Jan 2016, 20:55 WIB
Aktivitas di salah satu dealer mobil Ford di Jakarta, Selasa (26/1). Ford memastikan para konsumen dapat tetap mengunjungi dealer Ford untuk layanan penjualan, servis, dan garansi hingga beberapa waktu ke depan di tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Ekonom Standart Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputro menilai hengkangnya PT Ford Motor Indonesia (FMI) dari Indonesia disebabkan oleh beragam faktor. Di antaranya, karena harga komoditas yang rendah sehingga mempengaruhi penjualan industri otomotif.

"Di sisi lain kalau kita lihat Ford ini kebanyakan mobil double cabin kebanyakan mining sector yang itu pun juga kena. Jadi bukan hanya daya beli rendah tetapi juga karena faktor global, komoditi turun, investasi di sektor pertambangan turun dia juga kena‎," ujarnya, Jakarta, Selasa (26/1/2016).

Lebih lanjut, dia menilai kelesuan tidak hanya terjadi pada industri otomotif saja melainkan hampir semua industri. Hal tersebut karena perekonomian global yang melemah dan berdampak pada permintaan yang menurun.

"Hampir di semua industri kaya gitu karena memang globalnya nggak bagus, demand-nya juga nggak bagus jadi mau nggak mau harus lebih efisien sehingga lini bisnis yang nggak efisien harus direstrukturisasi," paparnya.

Di sisi lain, ‎terdapat persaingan yang ketat pada industri otomotif. Apalagi, pabrikan lain mampu menjual dengan harga murah karena dilengkapi oleh industri komponen dari dalam negeri.

"‎Dia juga kalah kompetisi sama mobil-mobil Jepang yang sudah punya basis manufacturing sehingga ada beberapa komponen yang mungkin nggak perlu impor dan bisa diproduksi dalam negeri sehingga bisa bersaing dan lebih murah. Kalo Ford kan harus impor semuanya, jadi kombinasi banyak hal," jelasnya.

Sebagai informasi, FMI resmi mengumumkan berhenti operasi pada paruh kedua tahun ini. Juru Bicara Ford Asia Pasifik dikutip lewat Reuters menyatakan alasan penutupan tersebut karena minimnya penjualan dan tak adanya pabrik perakitan.

"Di Indonesia tanpa manufaktur lokal, tidak ada jalan sama sekali pabrikan dapat bersaing di pasar itu. Dan kami tidak memiliki manufaktur lokal," tutupnya. (Amd/Zul)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya