[KOLOM] Dipecat Madrid, Benitez Keluar dari 'Neraka'

Benitez sepatutnya lega dilepas Real Madrid, kenapa? Simak ulasannya di kolom bola Asep Ginanjar.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 Januari 2016, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (grafis: Abdillah/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta: Entah mimpi apa Rafael Benitez saat pergantian tahun, pekan lalu. Hanya empat hari memasuki 2016, kenyataan pahit harus diterima pelatih berumur 55 tahun tersebut. Senin (4/1/2016), sehari berselang dari hasil imbang 2-2 yang dituai Real Madrid dalam  laga kontra Valencia, Presiden Florentino Perez menyudahi tugas Benitez sebagai entrenador Los Blancos.

Sungguh nahas dan malang nasib Benitez. Begitulah kesan yang timbul dari pemecatan itu. Namun, bukan tidak mungkin, justru itulah harapan yang dirapalkan Benitez saat malam pergantian tahun. Bagaimanapun, melihat perkembangan yang ada, eks pelatih Napoli itu tentu tahu persis bahwa pemecatan dirinya adalah sebuah keniscayaan. Itu hanya soal waktu.

Aroma pemecatan itu pun kian menguat pada bulan lalu ketika Perez melakukan poling tentang sosok yang diinginkan para pemegang tiket terusan untuk menjadi pelatih berikutnya. Apalagi saat sang presiden meminta pendapat para pemain soal Zinedine Zidane, nama yang muncul dari poling itu.

Sebagai Madridista, melatih Madrid adalah impian yang menjadi  kenyataan bagi Benitez. Karena cintanya yang begitu besar dan tulus bagi Madrid, Benitez mengira perkawinannya dengan Los Blancos adalah sebuah perkawinan yang sempurna. Namun, faktanya, selama tujuh bulan menjadi pelatih Los Blancos, dia tak ubahnya berada di neraka.

Pelatih Real Madrid bangga dengan performa timnya saat mengalahkan Malmo FF di partai pamungkas Grup A Liga Champions, Rabu (9/12/2015) dini hari WIB. (Reuters/Andrea Comas)

Di Santiago Bernabeu, dia menghadapi deretan pemain yang seperti tak lagi punya ambisi setelah merebut La Decima pada dua musim lalu. Sebagian dari mereka bahkan tak bisa menerima kehadirannya. Tak terkecuali sang superstar, Cristiano Ronaldo. Ketidaksukaan juga ditunjukkan sebagian Madridistas dan ada pula di hati kecil Perez.

Bisa dikatakan, Benitez tak memiliki kontrol terhadap timnya sendiri. Bagi seorang pelatih, ini adalah petaka.Seperti diungkapkan Arsene Wenger dalam The Manager karya Mike Carson, seorang manajer atau pelatih harus memegang kontrol secara penuh. Tanpa itu, manajer atau pelatih tak akan bisa berbuat apa-apa.

Zinedine Zidane ditunjuk menjadi pelatih Real Madrid untuk menggantikan Rafael Benitez, Selasa (5/1/2016). (AFP/Gerard Julien)

Lanjut Baca:

Kisah Benitez mirip dengan Jose Mourinho yang lebih dulu dipecat Chelsea. Musim ini, The Special One tak mampu lagi mengendalikan ruang ganti. Dia bahkan tak ragu menyebut para pemain telah mengkhianatinya dengan bermain buruk dan membuat The Blues terpuruk. Jadi, ketika akhirnya pemecatan datang, itu sebuah takdir baik bagi Benitez. Pemecatan itu membebaskan dia dari 'siksaan'. Dia tidak lantas ke surga, namun setidaknya keluar dari neraka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya