Liputan6.com, Jakarta: Keheningan malam di sekitar kawasan Gedung Australian International School (AIS), Jalan Jatimurni, Pasarminggu, Jakarta, Selasa (6/11), tak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Namun tiba-tiba, kesenyapan tadi pecah oleh suara ledakan. Seiring bunyi menggelegar tersebut, dua orang bersepeda motor Yamaha RX-King tampak memacu cepat menjauhi lokasi peledakan. Menurut saksi mata bernama Djarot, sebelumnya motor tersebut sempat berjalan lambat dan seorang di antaranya melemparkan sebuah bungkusan plastik dan meledak di halaman AIS. Akibatnya, sejumlah kaca sekolah pecah dan meninggalkan lubang sedalam 30 sentimeter. Belakangan, Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Polisi Abdul Rahman menegaskan, ledakan berasal dari sebuah granat antipersonel. Tak pelak, aksi pengeboman tersebut menambah daftar panjang kasus peledakan di Tanah Air, dalam beberapa tahun terakhir .
Belum tuntas polisi mengungkap pekerjaan rumah yang menumpuk tersebut, Sabtu pekan silam, Al Chaidar membuat pernyataan pers soal keterlibatan sejumlah faksi di tubuh organisasi Darul Islam --bisa disebut Negara Islam Indonesia (NII). Aktivis DI itu mengungkapkan, ada tiga faksi aliran keras dari 14 faksi di DI yang terlibat sejumlah peledakan di Ibu Kota. Sebut saja, pengeboman di AIS dan Gereja Petra Koja, Jakarta Utara, beberapa waktu silam. Lantas ketiga kelompok tersebut juga tersangkut sejumlah pengeboman di malam Natal, akhir 2000. Sayang, alumnus Jurusan Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu enggan merinci nama ketiga faksi tersebut. Pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 22 November 1969 itu berpendapat, motif teror peledakan berlatar belakang jihad untuk mendirikan Negara Islam.
Al Chaidar juga menengarai dan khawatir, dalam waktu dekat akan terjadi sejumlah peledakan lagi di beberapa daerah di Tanah Air. Peledakan bisa tak terjadi jika pemerintah mau menggelar "gencatan senjata" dengan mengakui keberadaan DI.
Belum berselang sehari, bekas Ketua Aksi Sejuta Umat 1 Mei 2001 di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, ini kembali melontarkan statemen. Menurut Al Chaidar, keterlibatan anggota DI yang "nakal" di balik sejumlah aksi kekerasan sudah ditelitinya dari 1991 hingga 1998. "Mereka diduga kuat sebagai pelaku pengeboman 18 gereja di malam Natal 2000," kata Al Chaidar. Penelitian itu tak berhubungan dengan para pelaku yang diperkirakan telah kabur ke luar negeri seperti ke Afghanistan atau Chechen (Chechnya).
Tentu saja, jajaran Polri yang selama ini dipusingkan berbagai aksi peledakan di Indonesia segera menanggapinya. Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Anton Bachrul Alam menyatakan, Polda Metro akan segera memanggil dan memeriksa Al Chaidar, sebagai saksi seputar pernyataannya. Anton menilai, Al Chaidar memiliki informasi penting mengenai sejumlah kasus pengeboman di Jakarta. "Informasi Al Chaidar amat berguna," kata Anton menanggapi pernyataan pers Al Chaidar tersebut.
Sementara itu, pengurus Pondok Pesantren Az-Zaitun, Indramayu, Jawa Barat, Kiai Jafar Subani dan Haji Sarwani membantah keras tuduhan Al Chaidar. Menurut keduanya, Az-Zaitun sama sekali tak terlibat pengeboman di AIS dan Gereja Petra. Sebab, peledakan bom di sejumlah tempat ibadah adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Menurut Sarwani, tudingan bahwa Az-Zaitun tahu persis aksi peledakan dan basis gerakan DI tidak benar. Dia juga mengaku herang mendengar pernyataan Al Chaidar. Pasalnya, Sarwani maupun Jafar Subani sama-sama tak mengenal Al Chaidar. "Saya juga tak mengetahui aktivitas Al Chaidar," kata Sarwani. Soal Al Chaidar mengenal para pengurus Az-Zaitun, Sarwani menegaskan bahwa itu adalah hak Al Chaidar sebagai muslim. Sebab, Pesantren Az-Zaitun memang milik semua muslim.
Di tempat terpisah, mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Z.A. Maulani menilai pernyataan Al Chaidar hanyalah upaya mencari popularitas. Sebab, sosok Al Chaidar tak dikenal di kalangan aktivis DI lainnya. Apalagi secara organisasi, keberadaan DI juga dianggap tak ada. "Para pengikutnya telah berbaur dengan sejumlah partai politik di Indonesia," kata Maulani, serius. Karena itulah, dia meragukan keberadaan DI di balik sejumlah pengeboman.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia itu menambahkan, integritas Al Chaidar sendiri juga sangat diragukan. Apalagi, mantan Ketua Aksi Sejuta Ummat 1 Mei 2001 di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, itu kerap membuat pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan. "Misalnya Al Chaidar mengaku mempunyai kedekatan dengan kalangan militer," kata Maulani. Jadi, untuk mencegah keresahaan masyarakat, Maulani mendesak polisi segera memeriksa Al Chaidar.
Memang, polisi tak berpangku tangan menghadapi keterangan-keterangan Al Chaidir. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Saleh Saaf menegaskan, kini, Direktorat Reserse Polri dan Badan Intelijen Nasional telah mendata sejumlah nama kelompok dan tokoh di balik aksi peledakan. Menurut Saleh, Polri pun tak segan bertindak tegas terhadap orang maupun kelompok pelaku teror.
Keraguan-raguan sejumlah kalangan terhadap pernyataan Al Chaidar itu lumrah saja. Betapa tidak, penulis buku-buku Islam yang terbilang produktif itu kerap melontarkan pernyataan kontroversial. Bahkan, cenderung berseberangan dengan sejumlah organisasi Islam lain. Dengan kata lain, sederet daftar panjang mengiringi sepak terjang pria berkumis itu di kancah politik kaum muslim di Tanah Air. Sebut saja, Aksi Sejuta Umat di Lapangan Monumen Nasional, Jakpus. Termasuk kala Al Chaidar menentang sweeping terhadap warga asing di Indonesia.
Kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Pol. Adang Rochyana, Senin pagi tadi, berencana melayangkan surat pemanggilan kepada pimpinan DI. Hal itu berkaitan dengan pernyataan Al Chaidar soal pelaku pengeboman dalam kelompok NII. Polisi mengaku tak serta merta mempercayai pernyataan Al Chaidar. Terlebih lagi, semua bukti mesti dilengkapi dulu. Tentu, sebab pekerjaan mengungkap kebenaran memang bukan perkara gampang.(ANS)
Belum tuntas polisi mengungkap pekerjaan rumah yang menumpuk tersebut, Sabtu pekan silam, Al Chaidar membuat pernyataan pers soal keterlibatan sejumlah faksi di tubuh organisasi Darul Islam --bisa disebut Negara Islam Indonesia (NII). Aktivis DI itu mengungkapkan, ada tiga faksi aliran keras dari 14 faksi di DI yang terlibat sejumlah peledakan di Ibu Kota. Sebut saja, pengeboman di AIS dan Gereja Petra Koja, Jakarta Utara, beberapa waktu silam. Lantas ketiga kelompok tersebut juga tersangkut sejumlah pengeboman di malam Natal, akhir 2000. Sayang, alumnus Jurusan Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu enggan merinci nama ketiga faksi tersebut. Pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 22 November 1969 itu berpendapat, motif teror peledakan berlatar belakang jihad untuk mendirikan Negara Islam.
Al Chaidar juga menengarai dan khawatir, dalam waktu dekat akan terjadi sejumlah peledakan lagi di beberapa daerah di Tanah Air. Peledakan bisa tak terjadi jika pemerintah mau menggelar "gencatan senjata" dengan mengakui keberadaan DI.
Belum berselang sehari, bekas Ketua Aksi Sejuta Umat 1 Mei 2001 di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, ini kembali melontarkan statemen. Menurut Al Chaidar, keterlibatan anggota DI yang "nakal" di balik sejumlah aksi kekerasan sudah ditelitinya dari 1991 hingga 1998. "Mereka diduga kuat sebagai pelaku pengeboman 18 gereja di malam Natal 2000," kata Al Chaidar. Penelitian itu tak berhubungan dengan para pelaku yang diperkirakan telah kabur ke luar negeri seperti ke Afghanistan atau Chechen (Chechnya).
Tentu saja, jajaran Polri yang selama ini dipusingkan berbagai aksi peledakan di Indonesia segera menanggapinya. Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Anton Bachrul Alam menyatakan, Polda Metro akan segera memanggil dan memeriksa Al Chaidar, sebagai saksi seputar pernyataannya. Anton menilai, Al Chaidar memiliki informasi penting mengenai sejumlah kasus pengeboman di Jakarta. "Informasi Al Chaidar amat berguna," kata Anton menanggapi pernyataan pers Al Chaidar tersebut.
Sementara itu, pengurus Pondok Pesantren Az-Zaitun, Indramayu, Jawa Barat, Kiai Jafar Subani dan Haji Sarwani membantah keras tuduhan Al Chaidar. Menurut keduanya, Az-Zaitun sama sekali tak terlibat pengeboman di AIS dan Gereja Petra. Sebab, peledakan bom di sejumlah tempat ibadah adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Menurut Sarwani, tudingan bahwa Az-Zaitun tahu persis aksi peledakan dan basis gerakan DI tidak benar. Dia juga mengaku herang mendengar pernyataan Al Chaidar. Pasalnya, Sarwani maupun Jafar Subani sama-sama tak mengenal Al Chaidar. "Saya juga tak mengetahui aktivitas Al Chaidar," kata Sarwani. Soal Al Chaidar mengenal para pengurus Az-Zaitun, Sarwani menegaskan bahwa itu adalah hak Al Chaidar sebagai muslim. Sebab, Pesantren Az-Zaitun memang milik semua muslim.
Di tempat terpisah, mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Z.A. Maulani menilai pernyataan Al Chaidar hanyalah upaya mencari popularitas. Sebab, sosok Al Chaidar tak dikenal di kalangan aktivis DI lainnya. Apalagi secara organisasi, keberadaan DI juga dianggap tak ada. "Para pengikutnya telah berbaur dengan sejumlah partai politik di Indonesia," kata Maulani, serius. Karena itulah, dia meragukan keberadaan DI di balik sejumlah pengeboman.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia itu menambahkan, integritas Al Chaidar sendiri juga sangat diragukan. Apalagi, mantan Ketua Aksi Sejuta Ummat 1 Mei 2001 di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, itu kerap membuat pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan. "Misalnya Al Chaidar mengaku mempunyai kedekatan dengan kalangan militer," kata Maulani. Jadi, untuk mencegah keresahaan masyarakat, Maulani mendesak polisi segera memeriksa Al Chaidar.
Memang, polisi tak berpangku tangan menghadapi keterangan-keterangan Al Chaidir. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Saleh Saaf menegaskan, kini, Direktorat Reserse Polri dan Badan Intelijen Nasional telah mendata sejumlah nama kelompok dan tokoh di balik aksi peledakan. Menurut Saleh, Polri pun tak segan bertindak tegas terhadap orang maupun kelompok pelaku teror.
Keraguan-raguan sejumlah kalangan terhadap pernyataan Al Chaidar itu lumrah saja. Betapa tidak, penulis buku-buku Islam yang terbilang produktif itu kerap melontarkan pernyataan kontroversial. Bahkan, cenderung berseberangan dengan sejumlah organisasi Islam lain. Dengan kata lain, sederet daftar panjang mengiringi sepak terjang pria berkumis itu di kancah politik kaum muslim di Tanah Air. Sebut saja, Aksi Sejuta Umat di Lapangan Monumen Nasional, Jakpus. Termasuk kala Al Chaidar menentang sweeping terhadap warga asing di Indonesia.
Kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Pol. Adang Rochyana, Senin pagi tadi, berencana melayangkan surat pemanggilan kepada pimpinan DI. Hal itu berkaitan dengan pernyataan Al Chaidar soal pelaku pengeboman dalam kelompok NII. Polisi mengaku tak serta merta mempercayai pernyataan Al Chaidar. Terlebih lagi, semua bukti mesti dilengkapi dulu. Tentu, sebab pekerjaan mengungkap kebenaran memang bukan perkara gampang.(ANS)