Ini Pemicu The Fed Putuskan Suku Bunga Acuan Naik

Keputusan tersebut merupakan tanda akhir dari masa suku bunga rendah yang luar biasa, yang awalnya dirancang untuk bangkit dari krisis.

oleh Siska Amelie F Deil diperbarui 17 Des 2015, 10:01 WIB
Ilustrasi The Fed

Liputan6.com, New York - Mengakhiri perdebatan panjang selama beberapa bulan terakhir, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akhirnya memutuskan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2006. Langkah itu menandakan seberapa baik ekonomi AS telah pulih sejak masa The Great Recession.
 
Melansir laman CNN Money, Kamis (17/12/2015), The Fed yakin ekonomi AS saat ini sudah jauh lebih kuat dan tak lagi membutuhkan dorongan dari suku bunga rendah.
 
Selain itu, keputusan tersebut merupakan tanda akhir dari masa suku bunga rendah yang luar biasa, yang awalnya dirancang untuk bangkit dan pulih dari krisis finansial global.
 
"Saya merasa percaya diri dengan berbagai angka fundamental yang mengendalikan perekonomian AS, sehatnya pengeluaran rumah tangga AS dan belanja publik. Terdapat beberapa tekanan di sebagian sektor ekonomi seperti manufaktur dan energi. Namun melihat sehatnya ekonomi AS saat ini, saya setuju untuk mengambil keputusan baru," papar Gubernur The Fed, Janet Yellen selama temu media usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
 
The Fed juga menyampaikan pihaknya akan lebih sabar tentang penentuan kenaikan suku bunga berikutnya. Itu agar kenaikan suku bunga tidak membunuh pemulihan ekonomi yang tengah terjadi.


The Fed hanya akan melakukan kenaikan secara bertahap, dan menahannya tetap rendah dalam beberapa waktu ke depan.

 Para investor tampak sangat bahagia dengan rencana kenaikan bertahap tersebut. Itu karena para petinggi The Fed masih akan bergantung pada perkembangan ekonomi secara finansial dan internasional dalam pengambilan keputusannnya.
 
Sejak krisis finansial 2008, The Fed telah menahan suku bunga tetap di dekat level nol guna membantu menstimulasi perekonomian dan mendorong pasar properti yang ambruk. Namun ekonomi AS kini sudah tak lagi berada dalam krisis.
 
Faktanya, ekonomi AS jauh lebih sehat dengan tingkat pengangguran yang kini hanya berkisar 5 persen. Angka itu lebih rendah dari hantaman jumlah pengangguran yang mencapai 10 persen pada 2009 selama krisis tenaga kerja terparah di AS.

Lebih dari 12 juta lowongan kerja berhasil diciptakan sejak masa resesi berakhir. Upah pegawai juga perlahan tumbuh sejak pemulihan ekonomi AS.
 
Pada pertemuan itu, The Fed juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Dibandingkan proyeksi terakhir pada September, The Fed meningkatkan prediksi ekonomi tahun depan akan tumbuh 2,4 persen. The Fed juga menurunkan proyeksi tingkat pengangguran pada 2016 menjadi 4,7 persen dari 4,8 persen.
 
Meski begitu, The Fed masih memiliki ekspektasi rendah untuk inflasi. The Fed memang menghendaki dua target dalam menaikkan suku bunga, yaitu rendahnya tingkat pengangguran dan inflasi yang stabil.
 
Target The Fed untuk inflasi adalah 2 persen, tapi saat ini hampir mendekati nol. The Fed menilai inflasi akan naik beberapa persen dalam beberapa tahun ke depan, tapi tak akan menyentuh 2 persen hingga 2018.
 
Kenaikan suku bunga The Fed diprediksi akan mulai dilakukan pada 2016. Sementara itu, kenaikan suku bunga terakhir yang pernah dilakukan The Fed adalah pada Juni 2006, hampir 10 tahun yang lalu. (Sis/Nrm)*
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya