Studi: Protein Bisa Mengukur Gejala Bipolar

Bipolar selalu didiagnosis dengan mengandalkan metode wawancara tradisional serta observasi.

oleh Risa Kosasih diperbarui 15 Des 2015, 11:30 WIB
Ilustrasi Bipolar

Liputan6.com, Jakarta - Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem. Penyakit ini selalu didiagnosis dengan mengandalkan metode wawancara tradisional serta observasi. 

Tentu dokter punya keterbatasan kalau hanya mengandalkan metode di atas untuk memecahkan masalah pasien mereka. Tapi, baru-baru ini sebuah riset menunjukkan kalau protein bisa jadi senyawa yang menandai terjadinya gangguan bipolar.

Dikutip dari portal kesehatan Health Aim, pada Senin (14/12/2015), pada akhirnya gangguan bipolar dapat ditangani melalui proses biologis. Karena biasanya, masalah kesehatan mental ini seringkali didiagnosis sebagai depresi belaka.

"Potensi menjalani tes biologis ini adalah untuk membantu secara akurat mendiagnosis gangguan bipolar, yang membuat perbedaan besar dalam praktek medis. Petugas medis bakal memilih pengobatan yang tepat untuk mendiagnosis individu-individu," tutur Dr Mark Frye, kepala psikiatri dan psikologi di Mayo Clinic.

Secara tradisional, psikiater bergantung pada pengamatan selama wawancara dengan pasien. Namun sejauh ini, tanda-tanda biologis tidak pernah dianggap untuk menganalisis aspek fisik dari penyakit mental ini.

Bisa membedakan tingkat suasana hati sangat penting untuk psikiater. Gunanya, mereka dapat mengetahui obat yang tepat untuk pasiennya. Dan dengan penemuan terbaru menggunakan protein dalam sampel darah adalah penemuan yang sangat menjanjikan karena digunakan sebagai penanda untuk gangguan bipolar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya