Liputan6.com, London - Harga emas naik lebih dari 2 persen ke level tertinggi dalam hampir 3 minggu pada Jumat (Sabtu pagi WIB) setelah data non-farm payrolls Amerika Serikat (AS) yang positif tak sanggup membantu mengangkat dolar AS. Padahal data ini membuka jalan bagi Bank Sentral AS atau The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan ini.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (5/12/2015), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, data non-farm payrolls meningkat 211.000 pada November. Tak hanya itu, data September dan Oktober direvisi karena adanya tambahan 35.000 pekerjaan yang lebih besar dari laporan sebelumnya.
Pada awal perdagangan, harga emas di pasar spot sempat naik, setelah akhirnya ditutup naik 2,5 persen ke level tertinggi sejak 16 November di kisaran US$ 1.088,7 per ounce. Harga emas berada di jalur kenaikan dengan rata-rata 2,3 persen untuk minggu ini.
Baca Juga
- Harga Emas Kian Berkilau Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS
- Dolar Melemah, Harga Emas Melonjak
- Harga Emas Diramal Masih Suram hingga 2019
Advertisement
Dolar AS melemah setelah laporan payrolls dan berita negara-negara anggota OPEC telah memutuskan untuk mempertahankan angka produksi mereka.
Harga minyak jenis Brent turun lebih dari 2 persen, jatuh di bawah US$ 43 per barel.
Fokus utama untuk pasar emas sekarang tetap pada pertemuan The Fed pada 15-16 Desember. Banyak investor mengharapkan The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya yang merupakan pertama kali dalam hampir satu dekade.
Kenaikan suku bunga The Fed akan membuat investor meninggalkan emas dan beralih ke instrumen investasi yang menjanjikan bunga tinggi.
Tak hanya emas, harga paladium juga tercatat melonjak 7,1 persen ke level tertinggi dalam tiga minggu di level US$ 572,7 per ounce.
Harga perak naik 2,8 persen menjadi US$ 14,47 per ounce dan platinum naik 4,3 persen menjadi US$ 878,89 per ounce. (*)